|
|
 |
Monday, February 12, 2007
Seperti biasanya sore hari ada pemandangan mencuri mata di pertigaan dekat rumah. Dari kejauhan sebuah bendera merah bergerak-gerak di tengah jalan. Di antara kepungan lalu lalang mobil, bendera merah itu tetap nampak, walaupun tinggal setengah. Ini bukan demo. Dan beginilah gaya polisi cepek di bilangan Kutisari Selatan, Surabaya.
Kostum yang dikenakan cukup unik dan selalu berganti tiap hari. Terkadang terlihat menyesuaikan tema. Seperti saat natal tahun lalu, ia memakai topi sinterklas lengkap dengan jenggot putih palsu. Pada sore lainnya, ia mengganti dandannya dengan rumbai-rumbai pakaian kertas, wajah berpoles warna hitam legam. Kostum manusia bertopeng, kostum orang Papua, dan lainnya. Entah motif apa yang melatari, mungkin untuk menarik perhatian orang saja.
Gerakannya lincah saat membagi kesempatan mobil dan motor untuk bergantian lewat. Pak Sutrisno memang berjasa. Tanpanya, di pertigaan itu bisa bikin ruwet dan macet. Saya sering melihat dalam kesehariannya ia bekerja sebagai tukang becak. Di sisi warung Mbak Nurul, Pak Sutrisno biasa mendandani wajahnya. Pada awalnya gaya dan ekspresi Pak Sutrisno, membuat tetangga berkerut dahi. Namun lama kelamaan terbiasa juga orang-orang disekitarnya.
***
Sementara di dekat Gayungan (dekat Masjid Agung) Surabaya beda lagi. Seorang bapak yang telah berumur dan bertubuh gemuk nampak tersenyum ikhlas mengatur laju lalu lintas di jalan sempit itu. Ia mengenakan jaket warna orange bertuliskan penegak disiplin. Tangan kirinya memegang rambu merah berbentuk bundar kecil. Tangan kanan sibuk bergerak-gerak. Yang pasti senyum lebarnya membuat saya terkesan.
Di pertigaan Injoko ada juga polisi cepek yang beda. Lihat saja gayanya, pake hormat-hormat segala ke pengendara. Kalo ada yang ngasih uang, tangannya dimainkan dan tengkyu boss..kadang sampai dengkulnya disentuhin aspal sembari kedua tangannya menyembah si pemberi uang..
Gaya polisi cepek memang beda-beda. Ada yang biasa saja alias standar, penuh aksesoris kayak Pak Sutrisno atau cukup senyuman lebar saja. Ya polisi cepek ada di mana-mana: di tikungan, belokan, pertigaan, jembatan rusak, dan turunan jalan.
Soal Polisi Cepek sebagai fenomena sosial di jalanan?...males ah ngomentari biar orang lain saja..
priiiiiitt... *) sabar untuk fotonya ...nyusul
Posted at 01:26 pm by akubaskoro
Permalink
Tuesday, January 30, 2007
Haatttchiiiii ......Flu Burung
Usai bicara ngalor-ngidul soal keruwetan negara* sekaligus ngobrolin bencana yang bertubi-tubi, akhirnya tanpa berkecil hati tema flu burung mampir juga tadi malam.
Teman saya langsung berteriak dan mengutuk kebijakan Sutiyoso soal pemusnahan unggas. Ia pun menolak isu flu burung yang digaungkan secara internasional. Baginya flu burung itu tidak ada. Kematian ayam mendadak ada sejak jaman Majapahit. Itu Tetelo. Kebijakan pemusnahan unggas tersebut sungguh meneror masyarakat. Ia sepakat dengan pendapat Permadi SH, bahwa kebijakan itu berbau diskriminatif dan sangat meneror masyarakat.
Ia pun mengutuk jika kebijakan itu akan di tiru di luar DKI, apalagi di Blitar. Ya, teman saya itu peternak ayam dan bebek di Blitar. Ia pernah cerita beberapa ayam dan bebeknya mati mendadak. Yang saya heran, ia sehat-sehat saja, setiap hari kontak langsung dengan ayam dan bebek-bebeknya. Dan ia tak terkena sesak napas atau flu. Ia hanya pusing saja kenapa ayamnya mati mendadak. Dan kenapa harga pakan ayam menjadi melambung, sementara harga jual ayam turun.
Tentu saja ia menjerit. Usahanya yang dirintis sejak tiga tahun lalu malah amblek. Harapannya menguap begitu saja. Dan Januari ini tak bisa panen, seperti yang dibayangkan. "Panen keprihatinan malah", katanya sembari mengepulkan asap 234 premium.
Ah ini pasti akal-akalan pasar saja pikirnya. Ayam terlalu banyak hingga kebijakan pemusnahan muncul sembari digandengkan isu flu burung internasional. Nanti ujung-ujungnya paling paha dan dada impor dari Amerika yang masuk Indonesia.
"Kalo soal banyak orang meninggal itu tak hanya dari flu, dari demam berdarah juga lebih banyak," terusnya. "Namanya juga suspect belum tentu juga kan?",ia melanjutkan,"kematian mereka belum tentu disebabkan oleh flu burung.
Sore kemarin ia berangkat ke Jakarta. Ia berencana menemui SBY dan Menteri Perekonomian, Budiono. Kabarnya kedua tokoh itu sudah dikenal dekat sejak ia jadi mahasiswa di Jogja. yo wiss pak, mengeluhlah pada mereka...sapa tau dapat angpo jutaan untuk memperbaiki kandang ayam..
hattchiiii...saya langsung ingat teman saya itu datang belum cuci tangan, apalagi mandi. Ia baru datang dari kandang ayam dan telah empat jam berada di atas bus.
wuaah..
*(padahal negara ga mikirin kita kan??)
Posted at 03:55 pm by akubaskoro
Permalink
Thursday, November 30, 2006
Judul buku Menghadapi Globalisasi ( Kiat Gombal Buat Pengusaha Kecil ) Karya El Fisgon Tebal 200 halaman Tahun November 2005 Penerbit Margin Kiri
------------------------------------------------------------------
Komik "Berat" yang Menggelitik Upaya menurunkan tema-tema pengetahuan "berat" dalam buku lewat kompilasi grafis tetaplah eksis. Para ilustrator dan kartunis kian lihai meracik bukunya. Gagasan-gagasan nakal lewat bahasa gambar pun tak berbatas. Terlebih lagi jika penyajiannya dibumbui ide-ide pedas, humor, parodi, dan kritik.
Misalnya saja, ada Zen Comics sebuah kompilasi gambar karya Ionna Salajan, berkisah nukilan-nukilan percakapan ala budaya Zen. Ada juga Marx untuk Pemula, konon dari komik ini turut membidani ide kemunculkan komik-komik bertema gigantik lainnya. Komik Marx untuk Pemula dalam versi bahasa asing pernah beredar dalam bentuk fotocopian dikalangan mahasiswa.
Judul-judul komik seperti Chaos Theory, Postmodern, Cultural Studies, Etika, Kosmologi, Freud, dan lainnya pernah muncul di akhir tahun 1990-an. Komik-komik ini bertema pengetahuan alam, budaya, hingga filsafat. Walaupun dikemas dalam bentuk komik kesan berat untuk menangkap isinya amat terasa.
Dalam karya El Fisgon, "Si Tukang Recok", ia mengurung komiknya dalam tema ekonomi politik. Inilah karya kartunis terkemuka Meksiko berjudul asli: How To Succeed at Globalization: A Primer for Roadside Vendors. Tema raksasa globalisasi dalam komik ini terbukti penuh kritikan dan gelitik khas Amerika Latin.
Fisgon mengawali kisahnya dari mata pelajaran sejarah kolonialisme masa silam: masa pra kapitalisme. Seorang pebisnis kecil yang selalu gagal, Charro Machoro dan seorang dukun finansial, Cassandra Carrera menjadi mengait cerita. Alur sejarah bisnis dan bumbu-bumbu kebusukan kapitalisme tak lupa diungkapkan. Layaknya adegan-adegan filmis, komik ini mengantarkan lembaran sejarah penghisapan antar manusia atau bangsa dibalik motif ekonomi.
Namun padatnya kejenakaan Fisgon memberikan hiburan khas ala Mexiko pada pembacanya. Persoalan gigantik semacam globalisasi dan postkolonial dalam komik ini menjadi lebih renyah tanpa harus mengerutkan kening saat membaca. Dua hal penting yang patut dicatat adalah kiat bisnis yang tak ada duanya: kiat yang tidak mengajari kita cara agar lekas kaya, namun menjelaskan mengapa kita terus menerus miskin, persis dijelaskan pada sampul kulit belakang komik ini.
Konon bangsa Meksiko memang dikenal suka tertawa, ungkap Ronny Agustinus, translator komik ini, dalam pengantar terjemahannya. Lelucon kocak ala Meksiko mewarnai lembaran komik setebal 200 halaman. Misalnya saja Fisgon mengklaim George W. Bush sebagai Presiden Meksiko Terburuk yang pernah Ada. Fisgon pun menuduh Bush menyontek gaya politikus Meksiko yang biasanya senang akan senjata api dan berbohong secara sistematik. Bush bahkan lewati kendala yang dimiliki politikus Meksiko, ia punya akses teknologi dan gudang senjata (hlmn 198 dan 200).
Jika membandingan dengan Fahrenheit 9/11, film dokudrama karya Michael Moore, maka Anda akan menemui beberapa kesamaan dalam soal membadaikan kritik pada Dinasti George Bush. Misalnya saja tuduhan kuat penyerangan Amerika dan Inggris pada Irak dipastikan bermotif mendulang emas hitam alias minyak bumi dan berlatar bisnis persenjataan.
Globalisasi sebenarnya bukanlah hal baru. Saat ekspansi Alexander Agung ke berbagai belahan dunia di sanalah gagasan-gagasan penguasaan ditiru oleh sejarah diabad-abad berikutnya. Secara sederhana akar globalisasi terbentuk dari sejarah kolonialisme masa silam. Dalam bahasa Fisgon bentuk baru kolonialisme ekonomi yang berlanjut, dikenal secara umum sebagai "Globalisasi", istilah keren bagi perampok sistematis atas dunia ketiga oleh negara-negara kaya (hlm. 101) Sebenarnya globalisasi juga pernah diramalkan oleh Bung Karno lewat istilah Nekolim: Neokolonialisme dan imperialisme. Globalisasi dapat dikatakan juga sebagai liberalisasi pasar dan pola penjajahan bentuk baru.
Komik ini mengingatkan pada diskusi penting di Soegeng Sarjadi Forum dalam bedah buku John Perkins : Confessions of an Economic Hit Man. Sebuah buku yang menjadi bahan kajian Kwik Kian Gie, Amien Rais, dan kalangan intelektual dalam memetakan persoalan globalisasi, hutang luar negeri, dan neokolonialisme. Lalu korporatokrasi sebagai istilah tiga pilar penting persekongkolan antara korporasi, pemerintah, dan bank-bank internasional yang berulang kali diingatkan oleh Amien Rais dalam berbagai forum diskusi.
Tak ada hal baru dalam desa global ini, selain temuan-temuan teknologi informasi yang kian canggih dan berfungsi sebagai intrumen perpanjangan tangan dari globalisasi. Sejarah keserakahan korporasi multinasional yang tak terbayangkan dan kebijakan pasar bebas yang membuahkan penjarahan atas negara-negara miskin. Tentu kasus Freeport ataupun Blok Cepu cukup menjadi contoh bagi kita sebagai bagian lembaran naskah di ruang kebebasan pasar. Bagi yang tak mau berumit-rumit memahami akar globalisasi, komik ini cocok untuk Anda.
Adi Baskoro
penikmat board of canada
Minggu,30 April 2006, Jawa Pos, Rubrik Resensi Buku
Posted at 02:53 pm by akubaskoro
Permalink
Monday, October 30, 2006
Judul Buku: Jalan Paradoks
(Visi Baru Fritjof Capra tentang Kearifan dan Kehidupan Modern)
penyunting: Budhy Munawar Rachman dan Eko Wijayanto
Penerbit: Teraju Mizan, 2004
Tebal: 219 + indeks
Menengok Kembali Gagasan Capra
Adi Baskoro*
Dunia yang dihuni manusia seolah terasa makin tak ramah. Gejolak krisis multidimensi sedang melanda dunia. Hal ini memaksa manusia untuk kembali berefleksi di ruang hening. Beragam krisis dari ekonomi, ekologi, politik, pendidikan, kesehatan, ancaman peperangan, dan terorisme, serta lainnya memunculkan pertanyaan mendasar: “why” (kenapa) dan ada apa dengan dunia yang kita diami?
Peradaban modern yang syarat dengan ketidakseimbangan menjadi tersangka utama dalam krisis ini. Hal ini diketahui dari pemujaan pada berhala-berhala materialisme dan rasionalisme yang kian menguat. Kapitalisme ekonomi dan borjuasi sosial menjadi anasir lain dari modernitas, demikian kutip Slamet Sutrisno, dosen Filsafat UGM dalam buku yang disunting Budhy Munawar Rachman. Memang agak abstrak tapi demikian Fritjof Capra menilai. Fritjof Capra adalah seorang fisikawan yang dikenal lewat bukunya Titik Balik Peradaban dan The Tao of Physics.
Munculnya beragam krisis menurut Capra berasal dari krisis penafsiran atau pemahaman itu sendiri. Di sini termasuk masalah fanatisme dan pola berpikir parsial yang menghegemoni pengetahuan manusia. Dalam buku ini mencoba menjawab apakah “dunia” yang kita diami tersusun atas asas pertentangan? Bisakah hal-hal yang bersifat paradoks tersatukan dan saling melengkapi? Tentu tak mudah memecahkan atau menjawabnya. Dalam model filsafat Barat memadukan suatu hal yang bertentangan adalah sulit, karena mengandung paradoks-paradoks.
Fritjof Capra berhasil memosisikan masalah yang paradoks (bertentangan atau berlawanan) dalam tempat yang berimbang. Hal inilah yang menarik kesembilan penulis dari kalangan akademisi untuk mengepak gagasan Fritjof Capra tentang pencarian pandangan baru soal kearifan dan kehidupan modern. Mereka antara lain: Agus Purwandianto, Gadis Arivia, Jusuf Sutanto, L. Wilardjo, Mulyadhi Kartanegara, P. Wiryono P, Paul Suparno, Slamet Sutrisno, dan Subur Wardoyo.
Kegagalan proyek modernisasi dalam bahasa Gadis Arivia, yang senada dengan delapan penulis lainnya, menjadi titik awal diskusi dalam buku ini. Dalam bahasa berbeda mereka mengapresiasi, mengritik, menolak, saling melengkapi atau bahkan mengamini . Mereka menengok kembali ide Capra dalam memandang dunia untuk lebih arif dan holistik. Yakni tentang filsafat dunia Timur yang telah lama dianggap tertinggal,irrasional, intuitif atau hanya ilusi saja.
Gagasan pertama Capra tentang adanya pergeseran paradigma dari pemikiran yang didasari fisika klasik Newton ke arah pemikiran fisika kuantum (hlm 8). Dasar fisika klasik adalah menganggap segala hal dapat dideterminasi, logis, mekanis,dan terukur. Sementara dalam fisika kuantum yang terdapat unsur ketidakpastian, ketidaktepatan, probalilitas, dan indeterministik.
Capra melihat dasar fisika kuantum ini memiliki kesamaan dengan Mistis Timur seperti Taoisme dan Budhisme. Taoisme yang menganut hukum keseimbangan gerakan semesta. Perpaduan yang menarik ini dalam Taoisme disebut Yin Yang. Analisa Yin-Yang menurut Capra sangat berguna untuk mencari keseimbangan kultural dengan memakai pandangan ekologi yang kuat (hlm 33). Konsep ecoliteracy atau kesadaran dan kemelekan pada masa depan planet bumi menjadi gagasan lain yang dicatat P. Wiryono P. Diharapkan dari prinsip-prinsip ekologis dipakai sebagai sistem dan jaringan untuk menyimak kehidupan bumi (bukan lagi secara mekanis) menjadi lebih baik. Dan Nature of Wisdom atau kebijaksanaan alam pun menjadi esensi dari ecoliteracy.
Kumpulan artikel dalam buku ini menarik gagasan Capra ke dalam berbagai permasalahan seperti kesadaran ekologi, feminisme, kesehatan, atau menyandingkan ke dalam Kawruh Jawa, serta sekadar pembacaan terhadap wacana fisika kuantum dan mistis Timur.
Berbeda dengan penulis lainnya Jusuf Sutanto lebih menyukai gaya pendekatan mengumpulkan puisi dan cerita-cerita kuno tentang kearifan. Misalnya puisi yang diambil dari penggalan Kitab I Ching, Dhammapada, atau Cheng Yen tentang pesan-pesan penting dalam menapaki kehidupan di planet bumi.
Mungkin bagi dunia Timur gagasan Fritjof Capra terlalu biasa atau bahkan usang. Namun kearifan untuk menyandingkan sebuah gagasan Barat dengan Timur lebih berkesan kuat sehingga dunia yang paradoks ini bisa dipandang lebih bijak dan utuh.
Dalam buku yang kaya referensi dan padat ini tak dijelaskan tentang siapakah Fritjof Capra secara khusus. Pembaca seolah dianggap telah mengenal siapakah Fritjof Capra. Demikian kekurangan dari buku kecil ini. Terlepas dari hal itu, pesan yang dibawa dalam buku ini adalah menemukan kembali cara pandang akan manusia dan alam secara utuh. Dan nilai-nilai mistisisme Timur telah memberikan kontribusi bagi fisika baru pada khususnya dan diharapkan bagi peradaban masa mendatang.
*alumnus fak.filsafat ugm
penikmat Boards of Canada
Posted at 11:52 am by akubaskoro
Permalink
Friday, October 13, 2006
BOS ADA DI RUANG KORUPSI ?
Inilah negeri yang sempat dijuluki "surga para koruptor kakap". Dalam kehidupan bangsa Indonesia Korupsi telah membudaya dan mengurat nadi. Konon adanya otonomi daerah aktifitas korupsi di duga kian otonom dan bebas. Celetukan "bukan orang Indonesia kalo tidak korupsi" mungkin ada benarnya. Dari hasil riset Transparansi Internasional tahun ini, Indonesia berada di peringkat ke 6 sebagai negara terkorup di dunia. Dan negara terparah di Asia dalam hal korupsi.
Aktivitas korupsi telah menjalar di dunia pendidikan di Indonesia. Hal terbaru terjadi dalam penyaluran dana bantuan operasional sekolah (BOS). Dana BOS dikeluarkan pemerintah sebagai upaya mengurangi beban biaya sekolah (SD dan SMP) terutama bagi siswa yang tidak mampu. Munculnya BOS juga sebagai bagian dari narasi dari pemberian dana kompensasi BBM di bidang pendidikan.
Banyak yang menduga munculnya alokasi dana BOS tidak akan banyak membantu menyukseskan program pendidikan dasar 9 tahun. Pemberantasan anak putus sekolah pun bisa terancam gagal. Di masa sulit seperti ini, akibat kenaikkan BBM jumlah penduduk miskin di Indonesia tentu terus bertambah. Seiring hal itu kemampuan untuk menyekolahkan anak pun bisa terjegal.
Benarkah alokasi dana Bantuan Operasional Sekolah akan tepat sasaran, merata, dan transparan? Mengingat preseden buruk dari gagalnya program BLT membuat kita ragu akan kesuksesan program BOS ini. Tapi marilah kita lihat bersama itikad baik pemerintah untuk upaya menanggung biaya pendidikan di sekolah dasar dan SMP yang sedang dimulai.
________________________
Ramalan tentang kekhawatiran aneka penyelewengan dana BOS berujung nyata. Berbagai media massa mengabarkan banyak dana BOS yang diduga diselewengkan. Tapi temuan-temuan dana BOS yang diselewengkan seolah tidak cukup mengagetkan kita. Sepertinya kita telah terbiasa mendengar dana-dana yang terkorupsi di negeri ini. Hingga kita memaklumi keadaan ini dengan apa adanya. Fungsi mekanisme dan pengontrolan penurunan dana BOS yang kemudian harus kita cermati.
Ada beberapa persoalan mengapa dana BOS sangat memungkinkan diselewengkan. Persoalan utama adalah minimnya sosialisasi BOS ke masyarakat. Adanya indikasi terlambatnya sosialisasi BOS yang seharusnya dilakukan jauh-jauh bulan sebelum Juli 2005. Saya menyayangkan sosialisasi BOS baik dalam koran atau pun media lain yang begitu terlambat. Iklan layanan Masyarakat BOS (versi Dik Doank & Pemprov. Jatim) memang nampak akhir-akhir ini ditayangkan di televisi. Namun inilah wujud dari bentuk sosialisasi yang sebenarnya terlambat.
Dari pengamatan ICW (Indonesia Corruption Watch) Sosialisasi BOS diduga baru sampai ke pejabat dinas sekolah atau kepala sekolah saat dimulai tahun ajaran baru 2005/2006. Elemen sekolah seperti guru, murid, dan orang tua murid menjadi terabaikan. Tak heran jika banyak yang tidak mengetahui komponen biaya sekolah yang seharusnya digratiskan.
Menurut bahan Sosialisasi Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak (PKPS-BBM) Depdiknas dan Depag, BOS adalah hak siswa SD/MI/SDLB/SMP/MTs/SMPLB, dan Salafiyah setara SD dan SMP (termasuk sekolah keagamaan non Islam), baik negeri maupun swasta di seluruh kabupaten/kota di Indonesia.
Dana BOS ini menurut PKPS-BBM akan diperuntukan bagi pembebasan uang formulir pendaftaran, buku pelajaran pokok dan buku penunjang, perpustakaan, pemeliharaan, ujian sekolah, ulangan umum bersama, dan ulangan umum harian, honor guru dan tenaga kependidikan honorer, serta kegiatan kesiswaan.
Persoalan kedua, persoalan transparansi dari pihak manajemen sekolah kepada orangtua murid dan tentang bagaimana pelaporannya kepada masyarakat. Kesulitan teknis dari pihak sekolah sendiri konon menjadi kendala tersendiri dalam hal administrasi pelaporan. Masih banyak orang tua siswa yang belum mengetahui dana BOS digunakan untuk apa saja. Dalam hal ini seharusnya pihak sekolah melibatkan orang tua siswa dalam rapat-rapat di sekolah.
Ketiga, pihak sekolah tidak taat pada petunjuk dan pelaksanaan (juklak) BOS. Sehingga tidak mengherankan jika ada dana BOS yang seharusnya dialokasikan semestinya tidak ditaati. Seperti halnya terjadi di Pacitan, dana BOS malah digunakan untuk merehabilitasi gedung sekolah.
Terbukanya celah praktek-praktek korupsi terhadap dana BOS salah satunya akibat ketidaktahuan orang tua siswa adanya BOS. Dari hasil riset ICW menemukan, 64,3 persen responden tidak mengetahui adanya dana BOS. Inilah hasil riset ICW yang dilakukan di Jakarta, Garut, Semarang, dan Kupang selama bulan Agustus hingga September lalu. Maka bisa kita asumsikan di wilayah lain masyarakat yang mengetahui adanya dana BOS sangat sedikit.
Sebagai upaya pendampingan program BOS diperlukan penguatan sosialisasi dan keterlibatan orang tua murid. Pengawasan program BOS bisa dilakukan oleh siapa saja termasuk media massa. Jika adanya pungutan-pungutan masih terjadi di sana-sini tentu harus segera dipertanyakan dan dilaporkan tanpa takut diancam.
Ajakan untuk terus mengawasi program BOS tentu perlu dirawat dalam ingatan masyarakat; di sebarkan secara lisan dan tulisan secara berulang-ulang. Karena tentu kita tidak menginginkan dana BOS itu dikorupsi. Sangat menyedihkan jika hak untuk bersekolah menjadi terjegal. Semoga kita tidak lupa bahwa pendidikan adalah investasi utama sebuah bangsa. Wujud nyata dan keseriusan pemerintah dalam menangani pendidikan dasar ini yang kita awasi dan kita tunggu hasilnya.
Adi Baskoro
Posted at 10:46 am by akubaskoro
Permalink
Monday, October 09, 2006
Gang Reyog No.8 by Adi Baskoro
 | Adi Baskoro
Mbah Tumpo is busy examining the tire of a motorbike. He turns the inner tube through his hands over and over. From time to time, he plunges the tire into water to asses whether it is indeed punctured as he presumes it to be. "Yo ngene mas kerjane Mbah Tumpo" (Ya, that's what Mbah Tumpo's work is like, Mas), says Kuswanto, a young man with long rusty-yellow hair who is a kendang (drum) player and a son of Mbah Tumpo.
Mbah Tumpo's hands are never still. every day he's doing something- tinkering ata the repair shop, or making naga (serpent) masks and barongan (masks and bodies of mythical beings) Mbah Tumpo is an elder from the Reog Singo Mangku Jaya Group. ( Reog is Javanese masked folk dance, using a giant mask of peacock feathers, a range of hobby-horse dancers and a large traple of male performers). If there's no invitation to perform, Mbah Tumpo ekes out a living working in his repair shop, patching tires near the entrance of Gang Reog (reog lane) in the city of Surabaya.
There is an eerie and ill-fated quality in the face of this white-bearded and mustached man. When he speaks, his eyes are sharp and searching. Although his body is thin, Mbah Tumpo appears strong and healthy at sixty eight years of age. An akar bahar bracelet ( a kind of amulet made of black coral) is coiled around his right wrist. He is often seen dressed in black. Sometimes his chest is bare. This old man is rarely known to bathe, and he's a champion at reading people thoughts; he posseses a magical expertise, which he uses for the protection of Reog Singo Mangku Jaya.
When there's Reog festival, it is Mbah Tumpo's task to provide a pagar gaib (magical protective fence). "This is so that the Reog group is safe from mischief by out side groups," explains Sugiono, the leader of Reog Singo Mangku Jaya. "What kind of mischief?" I ask. "At a Reog festival in Jember, we were marching across the alun-alun, and the gamelan instruments and gong wouldn't make a sound. At the moment we were supposed to perform, suddenly a storm came up, with wind and heavy rain."
Another of Mbah Tumpo's responsibilities is a pawang (magical expert) in the Kuda Lumping performance, in which men us flat hobby-horses of woven people are entered' by jinm they go into trance and lose conscousness. It's at theses time that extraordinary things take place, such as people eating broken glass or cobras; cracking open coconuts with their mouths; or being whipped just for the show. The Kuda Lumping is pat of the Reog performance. During the Reog Grebek Suro in Ponorogo in 2000, Mbah Tumpo perfomed his specialty-extinguishing fire with his mouth.
_____________________
Gang Reog is never quiet. Traffic and pedestrians pass through all day long. Groups of bare-chested youths, with tattoed arms and backs, sti along curbs. Groups of women rest along the edges of the gang, taking a few moments to fan away the heat of the Surabaya air.
To the side of the gang's entrance stands a reog statue, the standing figure represents a bearded Warog dancer and Dadak Merak, a giant figure somewhat similar tho the Balinese barong but made with masses of peacock feathers ( "merak" means "peacock). People often call this lane "Gang Reog".
Gang Reog is in Gubeng Kertajaya Raya, in the heart of Surabaya. The city is the second largest in Indonesia. Surabaya is also renowned for frequent flood and hot climate. When it rains, almost the entire city gets flooded, including the district of Kertajaya. Until it was repaired, the road in front of the Reog member's house was often swilling with floodwater.
On the right-hand side, about twenty meters from the entrance to the gang, are two houses squashed together under one address. This is No. 8, where the families of the members of Reog Singo Mangku Jaya live. To the passer-by, it looks stifling, over-crowded, noisy and hot. No. 8 measures eleven by twenty one meters and constitutes the dwelling of twenty-five families; the total number of inhabitants is over a hundred people.
The houses have been divided into sixteen tiny compartments, each one measuring the three-and-a-half by four meters, and each housing one or two families. Mbah Tumpo's compartment, where he live with his wife and three children, is only two by four-and-a-half meters, and part of root is used for living space.
(to be continued...)
translated from Indonesia by Latitudes Magazine | September 2004
Posted at 11:33 am by akubaskoro
Permalink
Monday, October 02, 2006
A
Message from Underground Place
in Tuban
Sejarah
lampau mencatat,Tuban adalah sebuah kota pelabuhan penting di Kerajaan
Majapahit. Di abad ke-14,Tuban menjadi pintu masuk ke kerajaan terbesar yang
pernah ada di Indonesia. Dalam sejarah penyebaran agama Islam di tanah Jawa,
Tuban pun berperan penting. Para walisongo (para penyebar agama Islam di pulau
Jawa berjumlah sembilan wali) dan wali-wali lain yang pernah ada, telah
merambahi wilayah Tuban. Di pesisir Utara Jawa Timur itu, salah satu dari
walisongo yaitu Sunan Bonang dimakamkan di kota ini.
Tuban
berarti “Jeram” dalam bahasa Kawi, yang berarti air terjun. Di kota yang
memiliki panjang pantai 65 kilometer itu memang terdapat air terjun yang
terletak di kecamatan Singgahan (air terjun nglirip) dan di kecamatan Semanding
( air terjun banyu langse ).
Tuban
berada kurang lebih 96 Km dari kota Surabaya. “Kota Seribu Gua”. Demikian
sebutan lain dari kota berhawa panas ini. Di pusat kota Tuban terdapat Gua
Akbar yang letaknya di dekat pasar. Oleh pemerintah setempat dijadikan obyek
wisata alam. Di kecamatan Montong, di tengah kawasan hujan jati terdapat gua
yang baru saja ditemukan yakni Gua Putri Asih. Selain itu ada juga Gua Ngerong,
sebuah gua air yang memiliki sungai. Bagi para peminat selusur gua (caving)
tak salah jika Tuban dijadikan tujuan utama.
Pesantren—tempat
santri (murid) belajar mengaji Islam—juga bertebaran di Tuban. Seperti halnya
Kediri, Jombang, Lamongan, Gresik, atau di beberapa kabupaten lain di Jawa
Timur. Salah satunya Pesantren di Langitan (Tuban), yang dipimpin KH Abdullah
Faqih, sebuah pesantren yang memiliki 5500 santri. Di kalangan NU (Nahdatul
Ulama) dan perpolitikan nasional, Pesantren Langitan yang cukup penting. Para
Indonesianis menyebut NU sebagai masyarakat Islam tradisional. NU adalah
organisasi Islam terbesar di Indonesia dikenal lekat dengan dunia pesantren
dimana nilai-nilai tradisi berusaha dijaga.
Dari
sekian banyak pesantren yang ada di Jawa Timur, tepatnya di Dusun Wire, Tuban, terdapat pesantren
(ponpes:pondok pesantren) yang letaknya sangat ekstrem; yakni di dalam
tanah.Tidak seperti kebanyakan pesantren lainnya yang biasanya berada di
permukaan tanah.Tanah di Dusun Wire itu tergolong berbatu dan keras.Tak ada
yang menyangka jika di dekat perumahan penduduk itu terdapat sebuah gua-gua. Di
bawah tanah tandus dan berbatu-batu itulah di dalamnya terdapat gua-gua lokasi
pesantren itu berada.
Saat
tiba di sebuah pelataran luas yang tandus itu, saya tak mengira jika di bawah
kaki saya terdapat gua-gua. Di depan gerbang pintu masuk, dibawah kibaran
bendera hitam (bendera Imam Mahdi) bertuliskan huruf Arab, tertulis di papan
nama: Pesantren Syeh Maulana Maghrobi. Nama ini diambil dari seorang wali
(orang suci) yang dahulu pernah ada di tanah Jawa. Pesantren ini lebih dikenal
dengan sebutan Ponpes Perut Bumi, untuk mewakili letaknya yang berada di dalam
tanah. Istilah “perut bumi” dalam bahasa Inggris bisa diterjemahkan menjadi “earth
bottom”.
Ponpes
Perut Bumi berada di dalam tanah seluas tiga hektar. Menurut pengakuan KH
Subhan Mubarok, pimpinan ponpes Perut Bumi, setelah menerima bisikan gaib di
malam satu Suro tahun 2001, segera ia membeli tanah yang berada di Kelurahan
Kedungombo itu. Dahulu tempat itu adalah tempat pembuangan sampah dan sarang
ular. Setelah tempat itu dibersihkan, lalu KH Subhan menyulap gua temuannya
menjadi ponpes yang unik dan berdaya tarik tinggi.
Ponpes
Perut Bumi dipagari tembok setinggi satu meter.Sebuah cekungan luas berhias
taman nampak terlihat, dengan dinding-dinding batu yang mendominasi, di
beberapa sisinya nampak seperti mulut gua. Huruf-huruf arab terlukis di dinding tembok
di seberang pintu gerbang. Saat menuruni undakan tangga, di sebelah kanannya
ada sebuah tempat untuk wudlu (bersuci) dan toilet.
Kiranya
14 meter dari tempat wudlu terdapat mulut gua yang menjorok ke dalam. Di dalam
gua ini terdapat sebuah ruangan besar yang digunakan untuk masjid. Tempat ini
diberi nama Gua Putri Ayu—diambil dari nama “penghuni” yang diyakini menjaga
gua tersebut. Gua ini mampu menampung 600 jamaah, lengkap dengan lampu neon. Di
bagian belakang masjid terdapat lobang pintu dengan sebuah ruangan yang biasa
digunakan untuk ritual semedi.
Di
sebelah kanan mulut Gua Putri Ayu terdapat sebuah kamar berkarpet biru yang
biasa untuk menerima tamu, lengkap dengan toilet. Di kamar ini saya sempat
bertemu Asmuni, salah satu pelawak senior Srimulat bersama kru televisi lokal.
Ia mengagumi keindahan tempat ini dan berniat mengunjungi Ponpes Perut Bumi
lagi. “Saya baru mengetahui di Tuban ada pesantren seperti ini,” ujar Asmuni
takjub. Pandangan matanya berkali-kali menyelidik dinding-dinding gua di kamar
berbatu itu.
Di
sebelah Utara gerbang utama terdapat lorong. Di kanan-kiri lorong terdapat
lubang-lubang gua dengan lantai terplester, untuk sementara digunakan sebagai
kamar-kamar santri. Di sebelah kanan lorong terdapat ruangan kecil tertutup
pintu kecil yang jarang dibuka. Ruangan kecil itu difungsikan sebagai ruang
bertapa.
Tak
jauh dari tempat itu, terdapat ruangan khusus dengan lantai dilapisi karpet
tebal. Ruang di gua ini mengingatkan saya pada setting film silat, seperti
sebuah istana-istana jaman dahulu. Kiranya di ruangan 4X5 meter ini, KH Subhan
biasa menerima tamu-tamu penting. Di balik ruangan ini masih terdapat gua-gua
yang lain seperti petilasan Sunan Kalijaga dan Syeh Jangkung, dan bekas pijakan
kaki Syeh Maulana Maghrobi. Ketiganya adalah para wali yang diyakini Abah
pernah bertapa di gua itu. Di ruangan yang beratap rendah bernama Gua Atas
Angin, digunakan untuk Taman Pendidikan Al Quran untuk anak-anak kecil.
Abah,
panggilan lain KH Subhan Mubarok, sangat terbuka menerima tamu. Setiap hari
orang datang silih berganti untuk meminta didoakan kiai atau sekadar melihat-lihat
pesantren yang berada di Kecamatan Semanding itu. Seperti halnya Anton, seorang
mahasiswa yang kuliah di Jakarta, sudah tiga hari tinggal di dalam gua. Ia meminta doa dan restu kiai Subhan agar
bisa segera mendapat pekerjaan. Pada hari ketiga sang kiai menyuruhnya kembali
ke Jakarta. “Uwis leh ndang mangkat to neng Jakarta, tak dongake lan iki
gawanen ” (Udah ‘nak berberangkatlah ke Jakarta, saya doakan dan ini
bawalah), ujar Kiai Subhan sambil memberikan kertas berisi doa-doa bertuliskan
Arab, tangan kanannya memegang kepala Anton.
Mendirikan
pesantren di bawah tanah (gua) bukanlah tanpa hambatan. Saat Abah mau
mendirikan ponpes, Bupati dan Pemerintah daerah (Pemda) Tuban melarangnya;
dengan alasan gua tersebut adalah milik (aset) negara. Tapi Abah tak
menghiraukan peringatan Haeny Rini Widyastuti, Bupati Tuban. Abah tetap
bersiteguh dengan prinsipnya dan pesan gaib yang telah ia terima. Dengan nada
keras ia mengancam akan melawan pemda atau siapa pun yang berani mengambil alih
gua temuannya. Gua tersebut memang berada di tanah yang telah berstatus milik
Abah. Kasus ini pernah ramai di media massa.
Walaupun
kesulitan dana, sampai saat ini Abah tetap berjuang membangun ponpes Perut Bumi
yang berusia tiga tahun itu. “Ayo-ayo awan-awan ora podo turu, wektune
nyambut gawe,” perintah Abah menyuruh santrinya untuk merapikan batu-batu
di atas gua. Pembangunan pesantren itu telah menghabiskan dana 1,4 Milyar
rupiah. Dana ia peroleh dari menjual beberapa mobilnya dan diambil dari
kantongnya sendiri, serta sumbangan-sumbangan dari beberapa pengusaha di Jawa
Timur. “Untuk mendirikan ponpes ini saya tidak menolak sumbangan dari manapun,”
aku kiai kharismatik ini. Abah hanya berprinsip ia tidak pernah meminta-minta
sumbangan.
“Siapa
saja yang pernah menyumbang ponpes Perut Bumi?” tanya saya.“Farida Pasha,
seorang artis sinetron,“ jawab Abah. Farida Pasha adalah pemeran tokoh Mak
Lampir dalam sinetron seri Misteri Gunung Berapi. “Ia salah satu penyumbang
rutin diatas satu juta rupiah untuk pembangunan ponpes Perut Bumi,” aku Abah. Sementara
R. Hartono, seorang jenderal dimasa pemerintahan Suharto, pernah menyumbang 20
juta rupiah untuk membantu membeli tanah di sekitar ponpes. Sumbangan lainnya
ia terima dari kotak amal yang tersedia di gua. Sebagian lagi sumbangan dapat
dari salaman tempel dari para tamu yang “berkonsultasi”.
Kesan
keras memang tergambar dari raut wajah Abah. Abah adalah seorang kiai yang
sederhana. Dalam kesehariannya Abah tetap turun tangan mengangkat batu dan
membantu para santri membenahi gua. “Kalau tak ada tamu biasanya Abah hanya
memakai singlet dan bercelana pendek kerja bersama kita,” ujar seorang santri
bernama Adityawarman.
Abah
bukanlah penganut Islam garis keras. Prinsip keberagaman ia simbolkan dari
beragam batu yang menyusun gua-gua di ponpes Perut Bumi. “Di sini ada berbagai
macam bebatuan yang bercampur menjadi satu”, ujar lelaki asal Modo, Lamongan. Abah
pun tak pernah membeda-bedakan etnis atau latar agama para tamunya. “Di
pesantren ini,” tutur Abah, “diajarkan untuk menghormati agama-agama selain
Islam, kami ingin meng-islah-kan (merukunkan) umat beragama di Indonesia,” ujar
lelaki yang berusia 58 tahun.
Metode
pendidikan Pesantren Perut Bumi mengacu pada kurikulum Langitan. Di sini kitab
kuning, fiqih (hukum Islam), ilmu Hikmah, tasawuf (mistik Islam), serta ilmu
kanuragan (bela diri) dan tenaga dalam diajarkan untuk para santri. “Ajaran
Perut Bumi bukanlah ajaran sesat dan keras, di sini mengacu pada Al Quran dan
Hadist Nabi (Muhammad),” ujar kiai ini dengan nada tegas. “Di sini pun tidak
diajarkan untuk merusak atau membunuh,” jelas kiai yang pernah menimba ilmu di berbagai pesantren
termasuk Langitan. Abah masih melanjutkan,“Tujuan dirikan pesantren untuk
membina santri agar berakhlak bagus dan berbudi Timur.” Dalam tasawuf memang
dikenal sebagai aliran Islam yang sangat toleran terhadap keberagaman
beragama.
Tempat
ini bukanlah tempat tujuan wisata. Tempat ini juga bukan sebuah gua yang biasa
dikeramatkan dengan sesaji layaknya tradisi di Pulau Jawa. Di sinilah tempat para santri digembleng
belajar Ilmu agama Islam (Tauhid). Di tempat ini telah 18 pecandu narkoba
disembuhkan Abah. Hingga saat ini Abah masih membatasi jumlah santri yang akan
belajar di Perut Bumi. Abah ingin merampungkan ponpes yang masih dalam proses
membangun.
Selain
untuk mengaji, pada malam Jumat Pon, tepat jam 12 malam di pesantren ini biasa
diadakan isthigosah (dzikir dan doa bersama) yang terbuka untuk
umum. Siraman ruhani dan pesan-pesan kedamaian sering diutarakan Abah kepada
para tamunya. Abah termasuk kiai yang mengecam tindakan pengeboman di beberapa
tempat di Indonesia. Abah sangat membenci orang-orang yang nekad membunuh dan
merusak atas nama agama.
Soal
politik nasional Abah tidaklah buta. Abah bersama 46 kiai lainnya (termasuk KH
Abdullah Faqih dari Langitan) adalah pendukung Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dalam
sebuah tabloid di tahun 2000, ia pernah meramalkan bahwa wahyu kepresidenan ada
pada SBY. “Wahyu itu setelah beralih dari Bung Karno berpindah ke Suharto, saat
ini wahyu itu diterima Yudhoyono, sekarang terbukti kan!” ujarnya bersemangat. Menurutnya
Habibie, Gus Dur, dan Megawati bukanlah presiden yang mendapat wahyu. “Mereka hanya presiden yang mengisi kekosongan,” jelas Abah.
____
Tak
terasa malam jatuh di Perut Bumi. Kesan angker dan seram segera menyampuli
pesantren bawah tanah itu. Di bawah dinding-dinding gua bersama Gus Alfin, anak
Kiai Subhan, saya berusaha merapatkan mata dengan perasaan sedikit cemas. Inilah
pengalaman pertama tidur di bawah stalatit gua. Saya berusaha mengusir rasa
takut itu dengan doa.
ADI BASKORO
Posted at 02:06 pm by akubaskoro
Permalink
Saturday, September 30, 2006
Affair, Obrolan tentang Jakarta
RESENSI BUKU Judul buku: Affair, Obrolan tentang Jakarta Penulis: Seno Gumira Ajidarma |Tebal: 219 hlm | Penerbit: BukuBaik, Jogjakarta, 2004
Aquarium Homo Jakartensis
Barangkali selain berisi kecemasan, Jakarta adalah ibukota yang mengagetkan. Betapa tidak, sekitar 70% uang negara berputar-putar dalam tarian yang memukau. Tak mengherankan jika banyak orang bertandang untuk mengadu untung atau berjualan mimpi-mimpi. Di sinilah para pengemis, Ali Oncom, artis, pejabat, anggota DPR, aktivis LSM, kaum urban, koruptor berdiam di kota yang di abad XVI bernama Jayakarta.
Masih menarikkah membicarakan Jakarta? Di era otonomi daerah sepertinya akan alergi menyoal Jakarta sebagai pusat segalanya. Bahkan ada isu tentang gerakan anti Jakarta. Dalam esainya berjudul Jakarta Tanpa Indonesia, Seno Gumira Ajidarma (SGA) berkata, "Jakarta bagai sebuah dunia yang orang-orangnya asyik dengan diri sendiri.Tak peduli dengan nasib orang-orang di daerah-daerah". Demikian tulis SGA dalam esainya di buku berjudul Affair, Obrolan tentang Jakarta. Sebuah kumpulan esai yang berasal dari berbagai media yang terpublikasikan dari tahun 1993 hingga 2004.
Jakarta tetap menyita perhatian orang. Tentu terlepas dari ada-tidaknya bom di Kuningan. Jakarta dari kacamata SGA adalah bertema gaya hidup, kemacetan, gap sosial, mitos modernitas, kesuksesan, serta potret-potret penghuninya. Esai-esai yang dikemas apik, mengalir, kaya realitas, bernada miring, terkadang lucu, ajaib, serta liar bagaikan menyimak cerpen-cerpennya.
Ada banyak cerita di balik gemerlap dan sesaknya Jakarta. Sejak dulu hingga kini cerita Jakarta terjejaki di berbagai media. Seperti lewat lagu, di koran, majalah, foto, cerpen, film, sinetron, komik, buku, ingatan-ingatan kaum urban, dan penyair. Misalnya saja yang masih segar dalam ingatan kita; hasil reportase yang ditulis Muamar Emka. Yakni cerita tabu di balik aroma malam kota metropolitan, lewat Jakarta Undercover yang laris bak kacang godok.
Gambaran yang sering didengar dari Jakarta adalah kota kosmopolitan sarat gaya, konsumtif, kriminalitas, kemiskinan, macet, banjir, teror bom, tawuran antar pelajar, ataupun gosip seputar artis ibukota. SGA menuturkan lagi dalam sudut sosial-budaya yang sering dibumbui makna filosofis. Jakarta tak hanya jalanan yang macet, Monas, beton, kafe-kafe, ataupun koran Pos Kota. Bagi SGA, Jakarta bagaikan sebuah aquarium. Aquarium yang kaya makna. Ketika dengan bebas pria kelahiran Boston ini bisa menikmatinya dengan supir taksi yang mengantuk. Penulis cerpen Negeri Senja ini, pandai menyelami aquarium kota metropolitan itu. Dalam esai-esainya, SGA seperti menghadirkan cerita kehidupan yang tak jauh darinya. Akrab dan begitu lekat, serta tak berjarak. Walaupun di sebuah esai ia meragukan apakah bisa mengenal orang Jakarta.
Denyut kota ini bagaikan tak pernah lepas dari nadi kreatif SGA. Jakarta pun baginya adalah sebuah ruang, waktu, dan Homo Jakartensis (sebagai sebutan untuk manusia Jakarta). Homo Jakartensis, menurutnya manusia yang hidup dalam gaya dan penuh ketakutan.Takut gagal, takut menderita , takut tidak dihargai, takut dikomploti, takut dikerjain, takut di curangi, dlsb, demikian tulisnya dengan meminta maaf karena mungkin terlalu menyederhanakan (hlm.118).
Detail keseharian Homo Jakartensis terapreasi dalam tulisan yang kaya sudut pandang dengan sindiran yang menggelitik, penuh kritik, permenungan, serta nakal. Misalnya dalam tulisan berjudul Paranoia. Berisi kisah orang-orang kantoran yang takut terlambat dan terjerembab di kemacetan serta ditemani radio atau sarapan pagi. Saat mobil lalu berarti sebagai rumah kedua, dan kantor sebagai rumah ketiga. Selain itu dahaga spiritual Homo Jakartensis diatasi lewat instans wisdom saat merasa tercukupi dengan membaca Kahlil Gibran, Anand Krishna, atau Chicken Soup. Ada lagi cerita tentang Zebra Cross, yakni sebuah pemandangan antara pejalan kaki dengan pengendara bermobil yang tak peduli dengan para pejalan kaki, dan saat itulah sisi kemanusiaan terabaikan.
Mitos kesuksesan selalu melekat di kota ini. "Kalau mau sukses ya ke Jakarta", kalimat ini sering kita dengar. Ada yang mengatakan Jakarta juga yang berarti kemenangan. Mendekati bagian akhir buku kecil ini, SGA memaknai affair sebagai bagian gaya hidup di kota besar. Baginya affair bukanlah jalan keluar melainkan jalan buntu. Kritikus film Indonesia dan pengajar IKJ ini menambahkan: "Kalau Anda terlibat affair, Anda akan menjadi manusia pinggiran. Jelaslah affair yang menjadi modus operandi masyarakat kota besar, mengacu kepada hukum dagang ini. " (hlm 205)
Buku ini memberikan kontribusi banyak pada kita, hal tentang Jakarta bersama "keajaiban-nya". Paling tidak Anda akan banyak mengetahui Homo Jakartensis dari SGA. Membicarakan Jakarta adalah tak ada habisnya, karena pencitraan terhadap gaya dan pilihan-pilihan hidup terus berganti, walaupun sebenarnya segalanya efek dari berhala modernitas yang terkadang mengabaikan sisisisi kemanusiaan.
Inilah panggung besar pentas kehidupan di aquarium bernama Jakarta saat gaya, mitos kesuksesan dipuja. Sebuah buku yang menarik untuk memberi gambaran muram, suram, ironis, tentang aquarium Homo Jakartensis dan keterasingan.
Adi Baskoro
Posted at 01:45 am by akubaskoro
Permalink
Friday, September 29, 2006
Sore lalu Amin, sahabat saya sejak SMA bercerita hobi ayahnya pelihara burung. Di Beji, Purwokerto kurang lebih di rumah ada 10 ekor burung peliharaan ayahnya. Udah tiga tahun lebih ayahnya pelihara burung. Suatu hari ada orang tertarik pada seekor burung peliharaan ayahnya. Orang tersebut mau menukarnya dengan sepeda motor Suzuki Thunder tahun 2005 miliknya yang masih cling! Ayahnya pun mau, plus menyerahkan ikan arwana. Sekarang Amin sedang menunggu Suzuki Thunder dikirim ke Mambal, tempat tinggalnya. Miracle! Selamat bung! Sepeda motor lawasmu ntar bisa di museumkan atau dijual.
Posted at 04:49 pm by akubaskoro
Permalink
Friday, September 22, 2006
Matisyahu dan Reggae Yahudi
Jamaika merupakan tanah kelahiran musik reggae. Dari Kota Kingston, Bob Marley membesarkan musik yang memiliki ciri permainan ritem gitar yang khas ini. Hingga kini lagu-lagu Bob Marley masih setia dimainkan para pemujanya, termasuk di Indonesia. Dalam evolusi musik reggae hadir Matisyahu, sosok unik lewat gaya reggae Yahudi nya memberikan warna berbeda.
Gaya reggae tak harus dreadlock (rambut gimbal), berbendera merah-hijau-kuning kas rasta, atau dekat dengan mariyuana. Matisyahu memuja reggae lewat cara lain. Ia meramu musik reggae kas Jamaika berpadu rap tradisional dan berlirik khas spirit Yahudi. Ada juga yang menyebutkan sebuah perpaduan janggal musik reggae bertemu gaya Yahudi.
Dari benang sejarah purba keturunan orang Afrika di Jamaika memiliki hubungan dengan kaum Yahudi. Keyakinan sejarah ini oleh kaum Rasta diakui kedekatannya., yakni adanya kesamaan dan asal usul nenek moyang kaum kulit hitam di Afrika adalah keturunan Yahudi yang dibawa dari garis keturunan Ratu Syeba dari Ethiopia. Walaupun terputus dari sisa Yudaisme, konon orang-orang Yahudi hitam Beta Israel telah hidup di Ethiopia selama berabad-abad.
Barangkali dari tafsir historis tadi bisa sedikit menampik kejanggalan antara hubungan Reggae yang didominasi orang keturunan Afrika dengan kemunculan reggae hasil ramuan Matisyahu.
Gaya berpakaian dan kelebatan jenggotnya menarik perhatian. Saat di panggung atau muncul di televisi pertama kali orang-orang akan heran bahkan mungkin mengira ia seorang komedian atau tukang sulap. Ia bertopi hitam dengan yarmulke (kupluk kecil) di bawahnya berpadu setelan jas hitam dan kemeja putih lengan panjang. Sebuah gaya khas Yahudi Orthodok. Pada pembukaan Festival Musik Bonnaroo 2006 ia berhasil mempertunjukan dirinya secara langsung di depan 80.000 orang.
Di Indonesia Matisyahu tak begitu dikenal. Artis reggae Yahudi ini sedang populer di belah bumi lain. Pertama kali Matisyahu muncul di televisi CNN pada 2003 dalam acara the Music Room yang dipandu presenter Shanon Cook. Matisyahu dikenal sebagai pendatang baru di dunia musik yang memiliki keahlian sebagai MC (rapper), beatboxer, hip hop, dan totalitas menari reggae di New York.
Dalam setiap wawancara televisi Matisyahu mengaku sebagai sosok yang religius. Latar belakang sebagai penganut Yahudi yang taat merupakan landasan spiritnya mengolah lirik dan musik reggaenya. Saat AP (Associated Press) menanyakan soal, "music is the kids' religion,"pada Matisyahu, ia menjawab "Dari perspektif Yahudi, musik dipakai dalam kuil. Kuil adalah tempat pemujaan pada Tuhan yang benar-benar ada... Dalam setiap agama dan kultur, musik telah digunakan untuk tujuan membuka orang-orang menuju rasa spiritual, untuk merasakan sesuatu yang transenden di dunia ini. "
Di sebuah website populer Yahudi, chabad.org, Matisyahu mengatakan semua musik nya dipengaruhi dan terinspirasi oleh ajaran dan semangat Hasidis. Ia menginginkan musik yang bermakna dan dapat menyentuh orang serta membuat mereka berpikir. Hasidisme mengajarkan bahwa musik adalah kuil dari jiwa. Sekadar catatan tradisi Hasidisme terfokus pada lagu ekstase dan tarian-tarian yang terhubung dengan Tuhan dan kesucian.
Setelah debut album pertamanya pada 2004 dalam album Shake Off the Dust Arise karir Matisyahu merangkak naik. Pada 2006 awal, ia kembali merilis album Youth. Di minggu pertama album Youth terjual 118.000 kopi. Sepenuhnya banyak lagunya berbahasa Inggris, hanya beberapa di bubuhi kata-kata Hebrew dan Yahudi. Lagu King Without A Crown dan Jerusalem mengantarkan kepopulerannya di balantika musik reggae.
Berlatar aliran Root Tonic yang unik berpadu rap tradisional, dan suara gitar solo berciri rock, Matisyahu sering tampil dengan gaya minimalis: dengan pendukung tiga personil band. Kadang ia menggandeng Kenny Muhammad, seorang musisi Muslim untuk tampil bersama.
Matisyahu lahir 30 Juni 1979 di Barat Chester, Pennsylvania. Bersama keluarganya, ia pernah pindah ke Berkeley dan akhinya menetap di White Plains, New York. Matisyahu memiliki nama asli Matthew Miller tumbuh di New York. Ia tak merasakan sebuah kasih sayang sesungguh untuk meyakini sebagai Yahudi, hingga ia jatuh hati pada musik reggae di umur 14 tahun.
Sebuah perubahan besar terjadi di usia 19 saat ia berkunjung ke Israel. Lalu ia mencurahkan hidupnya sebagai Hasidik Judaisme dan mengadopsi nama Hebrew menjadi Matisyahu. Nama Matisyahu ini memiliki arti "pemberian Tuhan". Ia terpengaruh kuat dari seorang rabi Chabad semasa kuliah dan menjadi anggota Komunitas Chabad Lubavitch di Crown Heights, Brooklyn, New York. Sekadar catatan komunitas Lubavitch yang terwakili Rabi Lubavitcher Rebbe bersama para rabi progresif seperti Rabbi Elchonon Wasserman, dan Reb Sholem Dov Ber Schneerson selalu tidak sepakat dengan kebijakan Pemerintah Israel.
Adi Baskoro*
Posted at 03:12 pm by akubaskoro
Permalink
|