|
|
 |
Thursday, September 21, 2006
MENGGAPAI HENING, MEMETIK SEHAT
Nuansa ketenangan, kedamaian, dan kesehatan tersedia di alam. Kita dapat meraup kesehatan dari sana. Lewat meditasi, kita masuk ke alam itu.
Musik bernuansa India mulai mengalun. Detik demi detik pun melaju. Peserta meditasi terlarut dalam alam keheningan. Sekiranya 20 orang duduk melingkar dengan posisi bersila. Tangan mereka salilng menggenggam. "Tenang, rileks, santai." Kata-kata itu seringkali muncul di tengah kedamaian Ruang Teratai Wisma Gadjah Mada, Yogyakarta, dari sang instruktur, Agung Winantu Raharja.
Lalu, para peserta meditasi diminta duduk saling berjauhan. "Kita akan bernafas seperti kelinci menggunakan napas dada," tutur Agung, alumnus Psikologi UGM. Mulut dibuka sedikit. Ujung lidah dijulurkan. Dan, dua menit berlalu. Alunan musik pengiring, yang didominasi bunyi kendang India, makin keras dan cepat. Bunyi kendang itu terdengar menggebu-gebu.
Tiba-tiba, pada tangan dan kaki terasa getaran-getaran, seperti dilanda kesemutan nan dasyat. Tangan terasa tertekuk-tekuk. Percikan energi seperti keluar dari kaki dan tangan. Emosi coba ditarik dengan membayangkan amarah yang mengendap. Serentak para peserta meditasi berteriak: "Haa!!!""
Suara gemuruh memadati ruang. Ada peserta yang memukul-mukul lantai. Lantunan musik, yang tadinya keras, sdikit demi sedikit melambat. Nafas kembali diatur. Posisi peserta kini berubah dalam keadaan terbaring. Keadaan rileks tubuh tetap dipertahankan. Suasana kembali hening. Musik masih menemani peserta meditasi.
Latihan meditasi itu kemudaian diakhiri dengan "tarian kegembiraan". Serasa tarian itu telah melibas emosi dan amarah, yang sedari tadi mengendap di alam bawah sadar peserta meditasi.
Itulah meditasi ala Anand Krishna, yang termasuk dalam Paket Manajemen Stress. Selain itu, ditawarkan pula Palet Neo Zen Reiki. Keduanya merupakan paket terapi kesehatan jasmani dan rohani. Tawaran paket seharga Rp100.000 itu cukup menarik Cahyadi. Mahasiswa Arsitektur Universitas Atmajaya, Yogyakarta, ini mengaku sembuh dari sejumlah kebiasaan burukunya. "Manfaat kesehatan dan memahami persamaan kemanusiaan bisa saya dapat," ungkap bekas perokok berat ini. Berawal dari ketertarikan pada buku-buku Anand Krishna, ia menekuni dunia meditasi ala Anand.
Pengalaman Cahyadi adalah satu contoh bahwa meditasi bukan hanya milik biksu atau kaum sufi. Meditasi ternyata bisa dilakukan siapa saja. Di Padepokan Meditasi Anand Ashram, milik meditator Anand Krishna, misalnya, pesertanya terdiri dari beragam profesi: tukang kebun, pengacara, dokter, hingga eksekutif. Sekitar 20.000 orang pernah bergabung di dalamnya. Anand Krishna sendiri berpendapat," Setiap orang harus berdaya diri dengan sikap hidup meditatif."
Tahun 1970-an, meditasi menjadi tren di dunia Barat, terutama di kalangan Flower Generation. Transcendental Meditation, yang diperkenalkan oleh Maharish Mahesh Yogi, cukup laris kala itu. Sekat-sekat agama bisa diterobos melalui cara meditasi ini. John Lenon dan Yoko Ono pun pernah melakukan meditasi bersama Maharishi.
Jauh sebelum itu, di Yogyakarta telah berdiri SUBUD pada 1947, yang juga menawarkan pola hidup meditatif. Gerakan spiritual ini memarak lagi pada 1998, seiring ramainya penyelenggaraan seminar-seminar penyembuhan alternatif di pelbagai tempat, terutama di hotel-hotel.
Salah satu tokoh meditasi yang memopulerkan gerakan ini ialah Anand Krishna. Tak kurang 33 buku tentang spiritualitas , separuh diantaranya tentang meditasi yang berkait dengan kesehatan, telah ditulis Anand. Selain itu, sejak 1992 ia mengelola Padepokan Meditasi Anand Ashram, berlokasi di daerah Perumahan Sunter Mas, Jakarta Utara.
Di beberapa daerah seperti Bali, Cirebon, serta Yogyakarta pun telah terdapat sentra-sentra latihan meditasi ala Anand Krishna. Namun, padepokan-padepokan ini tak mau disebut "cabangnya" Anand Ashram. "Kami ini mandiri, terlepas dari Pak Anand, " tegas Agung. Padepokan meditasi sejenis misalnya Yayasan Studi Spiritualitas Brahma Kumaris di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta.
Sementara itu, di Pulau Dewata nama Merta Ada dan Prof. Dr. dr Luh Ketut Suryani cukup tersohor. Merta Ada memimpin padepokan Bali Usada Meditasi, dan Luh Ketut Suryani adalah psikiater sekaligus dosen kedokteran Universitas Udayana. Mereka kerap menggelar seminar dan penyembuhan relaksasi meditasi. ____
Gaya hidup sehat, sebenarnya, bisa kita tiru dari para biksu. Sutikyanto B Sasana Bodhi, umpamanya, rajin bermeditasi tiap pagi dan sore hari. Selama meditasi, ia memfokuskan pikirannya pada anggota tubuh yang sakit. Dampaknya, pengajar agama Budha di UGM itu mengaku jarang terkena penyakit berat. "Paling-paling, ya, kena flu karena kecapaian," ucapnya ramah. Menurutnya, pikiran bisa mengendalikan bagian tubuh yang sakit. Dengan metode ini ia bisa mendengar aliran darah dan denyut nadi di kaki.
Meditasi yang dilakukan Sutikyanto hanyalah satu cara. Masih banyak ragam aliran dan metode meditasi. Contohnya, meditasi Budha mengenal dua jenis metode. Pertama, Samatha Bhavana, untuk kesehatan badan dan jiwa: stres dan frustasi. Teknik ini sangat berguna bagi ketenangan batin. Kedua, Vipassana, untuk membersihkan kekotoran batin. Dengan teknik ini diharapkan pelakunya memperoleh kebijaksanaan dan pandagan yang terang.
Sedangkan Yoga, satu teknik yang sudah amat terkenal, juga memiliki beberpa aliran: Yoga Kundalini dan Yoga Assanas. Untuk terapi seks, misalnya, Yoga Kundalini-lah yang tercocok. Sementara Yoga Assanas lebih memanfaatkan pada kesehatan secara umum.
Akan berbeda lagi bila dilihat dari cara melakukannya. Anand Krishna menolak anggapan bahwa konsentrasi adalah inti meditasi. Dalam buku Seni Memberdayakan Diri Meditasi (1999), disebutkan bahwa konsentrasi cuma anak tangga menuju meditasi. Sedangkan Luh Ketut Suryani, justru mengartikan meditasi sebagai pemusatan perhatian yang dilakukan secara sadar.
Meditasi memang bisa dilakukan dengan cara dan keyakinan apapun. Yang jelas, dampaknya sungguh baik untuk kesehatan jiwa maupun raga. Jothidammo Thera, biksu dari Shangha Theravada, Candi mendut, berpendapat, "Dengan memperhatikan keluar masuknya nafas selama 20 menit akan diperoleh keadaan tubuh yang sangat rileks dan tenang." Latihannya pun cukup sederhana: berawal dari relaksasi saraf dan otot.
Secara ilmiah, seperti yang dijelaskan Prof, Dr. Soeripto, ahli patologi Fak. Kedokteran UGM, keadaan rileks ini terjadi karena otak mengeluarkan hormon melatonin saat bermeditasi. "Hormon inilah yang berfungsi untuk merilekskan syaraf dan otot," ungkap Soeripto.
Dalam makalahnya berjudul "Kesehatan dan Meditasi", Soeripto menulis, kemampuan otak untuk mengeluarkan substansi kimiawi—yang bekerja identik dengan obat penenang—akan bertambah besar saat orang bermeditasi. Sebenarnya, kita bisa memasukkan zat semacam hormon melatonin itu dari luar. Hal inilah yang dilakukan oleh para pecandu narkoba.
Meditasi terbukti tak hanya berpengaruh pada kerja hormonal tubuh, tapi juga pada darah. Soeripto menyebutkan bahwa catecholamine dalam darahakan berkurang bila meditasi berhasil dilakukan. Catecholamine berkaitan dengan hormon adrenalin dan nonadrenalin. Catecholamine inilah yang membuat orang lebih tenang, denyut jantungnya lebih lambat, dan tekanan darah stabil.
Sebetulnya, upaya penelitian medis terhadap meditasi sudah cukup lama. Pada 1978, seorang ilmuwan India Dr. K.N. Udupa, pernah meneliti Yoga. Hasilnya ia tulis dalam buku Disorders of Stress and Their Management by Yoga. Udupa mencoba membuktikan bahwa penyakit-penyakit seperti hipertensi, ginjal, atau jantung bisa disembuhkan melalui Yoga. Untuk membuktikannya, Udupa menggunakan analisa ilmiah kedokteran. (Baca: "Mengilmiahkan Meditasi").
Sementara itu, dalam buku Dasar-dasar Respons Relaksasi (2000), Herbert Benson dan William Proctor, dua orang ahli medis dari Havard University AS, menunjukkan bahwa mantra-mantra atau zikir dalam Islam pun ternyata memiliki efek penyembuhan berbagai penyakit, khususnya hipertensi dan jantung. Pada 1998, Luh Ketut Suryani pernah pula meneliti dampak meditasi bagi penderita diabetes militus. Beserta tim peneliti Udayana dan RSUP Sanglah, diperlihatkan bahwa meditasi bisa menyembuhkan penderita diabetes tanpa tergantung ada insulin. Meditasi relaksasi ini membantu penderita mencapai homeostatis atau keseimbangan. Regulasi tubh yaitu syaraf otonom, endokrin, dan daya tahan tubuh dapat berfungsi secara maksimal. Kondisi inilah yang membawa dampak penyembuhan.
____
Pengaruh positif meditasi bagi kesehatan memang banyak. Tapi, bagaimana bila meditasi juga mengandung efek negatif? "Disinilah pentingnya peran pengawas,"ujar Jothidammo Therra. Pengawas harus betul-betul mengetahui keadaan peserta meditasi. Jangan sampai ia menyimpang jauh dari tujuan. Misalnya, masuk "ke alam lain". J.E Prawitasari, psikolog UGM yang kerap memberikan terapi relaksasi, mencontohkan pengalaman seorang kliennya. "Kala itu, ia sedang melakukan relaksasi dengan mendengarkan instruksi dari kaset yang saya berikan. Tetapi, suaminya, yang tak sengaja ikut mendengarkan, malahan yang trance".
Terapi penyembuhan dengan relaksasi meditasi kian merebak. Bagaimana dengan nasib terapi kedokteran? Akankah ia terancam? Menurut Prawitasari dan Soeripto, terapi kedokteran masih tetap dibutuhkan. "Orang dalam keadaan depresi yang sudah psikotik tak bisa disembuhkan dengan meditasi. Mereka harus diatasi dengan meditasi. Mereka harus diatasi dengan obat-obatan psikotropika," papar Prawitasari. Soeripto pun menegaskan, tak semua penyakit bisa disembuhkan dengan meditasi, seperti kanker dan AIDS.
Tampaknya, upaya-upaya pembuktian ilmiah akan menghapus anggapan umum tentang meditasi, yang dulunya diidentikkan dengan "dunia klenik" . Dunia kedokteran di Barat telah mengembangkan pengobatan medis berterapi meditatif. "Dunia kedokteran Indonesia, sementara ini, belum mengakuinya karena bukti-bukti belum terkumpul, " ujar Soeripto. Jadi, inilah tantangan bagi kedunia kedokteran di Indonesia. Masalahnya, meneliti hal-hal spiritual secara ilmiah memang tak gampang.
ADI BASKORO
(reportase Bekti Dwi Andari & Rio Hutagaol) Termuat di rubrik Kesehatan Majalah Balairung Edisi 32/TH.XV/ 2000
Posted at 01:11 pm by akubaskoro
Permalink
Friday, May 26, 2006
Komik "Berat" yang Menggelitik
|

Judul buku Menghadapi Globalisasi ( Kiat Gombal Buat Pengusaha Kecil ) | Karya : El Fisgon | Tebal 200 halaman | Tahun November 2005 | Penerbit Margin Kiri ----------------------------------------------------------------
Upaya menurunkan tema-tema pengetahuan "berat" dalam buku lewat kompilasi grafis tetaplah eksis. Para ilustrator dan kartunis kian lihai meracik bukunya. Gagasan-gagasan nakal lewat bahasa gambar pun tak berbatas. Terlebih lagi jika penyajiannya dibumbui ide-ide pedas, humor, parodi, dan kritik.
Misalnya saja, ada Zen Comics sebuah kompilasi gambar karya Ionna Salajan, berkisah nukilan-nukilan percakapan ala budaya Zen. Ada juga Marx untuk Pemula, konon dari komik ini turut membidani ide kemunculkan komik-komik bertema gigantik lainnya. Komik Marx untuk Pemula dalam versi bahasa asing pernah beredar dalam bentuk fotocopian dikalangan mahasiswa.
Judul-judul komik seperti Chaos Theory, Postmodern, Cultural Studies, Etika, Kosmologi, Freud, dan lainnya pernah muncul di akhir tahun 1990-an. Komik-komik ini bertema pengetahuan alam, budaya, hingga filsafat. Walaupun dikemas dalam bentuk komik kesan berat untuk menangkap isinya amat terasa.
Dalam karya El Fisgon, "Si Tukang Recok", ia mengurung komiknya dalam tema ekonomi politik. Inilah karya kartunis terkemuka Meksiko berjudul asli: How To Succeed at Globalization: A Primer for Roadside Vendors. Tema raksasa globalisasi dalam komik ini terbukti penuh kritikan dan gelitik khas Amerika Latin.
Fisgon mengawali kisahnya dari mata pelajaran sejarah kolonialisme masa silam: masa pra kapitalisme. Seorang pebisnis kecil yang selalu gagal, Charro Machoro dan seorang dukun finansial, Cassandra Carrera menjadi mengait cerita. Alur sejarah bisnis dan bumbu-bumbu kebusukan kapitalisme tak lupa diungkapkan. Layaknya adegan-adegan filmis, komik ini mengantarkan lembaran sejarah penghisapan antar manusia atau bangsa dibalik motif ekonomi.
Namun padatnya kejenakaan Fisgon memberikan hiburan khas ala Mexiko pada pembacanya. Persoalan gigantik semacam globalisasi dan postkolonial dalam komik ini menjadi lebih renyah tanpa harus mengerutkan kening saat membaca. Dua hal penting yang patut dicatat adalah kiat bisnis yang tak ada duanya: kiat yang tidak mengajari kita cara agar lekas kaya, namun menjelaskan mengapa kita terus menerus miskin, persis dijelaskan pada sampul kulit belakang komik ini.
Konon bangsa Meksiko memang dikenal suka tertawa, ungkap Ronny Agustinus, translator komik ini, dalam pengantar terjemahannya. Lelucon kocak ala Meksiko mewarnai lembaran komik setebal 200 halaman. Misalnya saja Fisgon mengklaim George W. Bush sebagai Presiden Meksiko Terburuk yang pernah Ada. Fisgon pun menuduh Bush menyontek gaya politikus Meksiko yang biasanya senang akan senjata api dan berbohong secara sistematik. Bush bahkan lewati kendala yang dimiliki politikus Meksiko, ia punya akses teknologi dan gudang senjata (hlmn 198 dan 200).
Jika membandingan dengan Fahrenheit 9/11, film dokudrama karya Michael Moore, maka Anda akan menemui beberapa kesamaan dalam soal membadaikan kritik pada Dinasti George Bush. Misalnya saja tuduhan kuat penyerangan Amerika dan Inggris pada Irak dipastikan bermotif mendulang emas hitam alias minyak bumi dan berlatar bisnis persenjataan.
Globalisasi sebenarnya bukanlah hal baru. Saat ekspansi Alexander Agung ke berbagai belahan dunia di sanalah gagasan-gagasan penguasaan ditiru oleh sejarah diabad-abad berikutnya. Secara sederhana akar globalisasi terbentuk dari sejarah kolonialisme masa silam. Dalam bahasa Fisgon bentuk baru kolonialisme ekonomi yang berlanjut, dikenal secara umum sebagai "Globalisasi", istilah keren bagi perampok sistematis atas dunia ketiga oleh negara-negara kaya (hlm. 101) Sebenarnya globalisasi juga pernah diramalkan oleh Bung Karno lewat istilah Nekolim: Neokolonialisme dan imperialisme. Globalisasi dapat dikatakan juga sebagai liberalisasi pasar dan pola penjajahan bentuk baru.
Komik ini mengingatkan pada diskusi penting di Soegeng Sarjadi Forum dalam bedah buku John Perkins : Confessions of an Economic Hit Man. Sebuah buku yang menjadi bahan kajian Kwik Kian Gie, Amien Rais, dan kalangan intelektual dalam memetakan persoalan globalisasi, hutang luar negeri, dan neokolonialisme. Lalu korporatokrasi sebagai istilah tiga pilar penting persekongkolan antara korporasi, pemerintah, dan bank-bank internasional yang berulang kali diingatkan oleh Amien Rais dalam berbagai forum diskusi.
Tak ada hal baru dalam desa global ini, selain temuan-temuan teknologi informasi yang kian canggih dan berfungsi sebagai intrumen perpanjangan tangan dari globalisasi. Sejarah keserakahan korporasi multinasional yang tak terbayangkan dan kebijakan pasar bebas yang membuahkan penjarahan atas negara-negara miskin. Tentu kasus Freeport ataupun Blok Cepu cukup menjadi contoh bagi kita sebagai bagian lembaran naskah di ruang kebebasan pasar. Bagi yang tak mau berumit-rumit memahami akar globalisasi, komik ini cocok untuk Anda.
Adi Baskoro
Minggu,30 April 2006, Jawa Pos, Rubrik Resensi Buku
|
Posted at 03:33 pm by akubaskoro
Permalink
Monday, September 26, 2005
setelah empat tahun ia pun kembali hadir. puisi-puisi yang bangkit dari tempaan bunyi palu pandai besi dan bentangan alam kembali memadati ruang pribadiku.
Posted at 01:33 am by akubaskoro
Permalink
Wednesday, August 03, 2005
BASKORO lahir di Purwokerto. Mengakhiri masa studinya di Fakultas Filsafat UGM pada tahun 2003. Alumnus filsafat ini belum pernah membuat buku. Walau demikian ia suka membantu mendesain sampul buku orang lain. Penggemar film Jean Michel Basquiat ini semasa kuliah suka iseng mengirimkan resensi buku, esai, foto, dan dimuat di media cetak secara kebetulan.
Posted at 10:47 pm by akubaskoro
Permalink
Tuesday, August 02, 2005
Judul: Ensiklopedi Tematis Spiritualitas Islam, Manifestasi Penyunting: Seyyed Hossein Nasr Tahun: April, 2003 Tebal: xliii+779 Penerbit: Mizan
Wujud Plural Dunia Islam
Tradisi dalam kacamata filsafat perennial merupakan cerminan dari Realitas Tertinggi. Ensiklopedi ini membahas kuatnya tradisi perennial yang mengakar dalam Islam. Keragaman yang berasal dari Yang Satu nampak dalam tradisi tasawuf.
Wacana spiritualitas selalu menarik dan kekal untuk dijejaki. Di Barat minat literal pada wacana spiritualitas sepertinya sedang menguat. Kesadaran spiritualitas ini menurut Budhy Munawar Rahman (2000) dibuktikan dengan minat Barat pada dunia mistik-spiritualitas dan mistik-keagamaan dari semua tradisi yang ditulis dalam bentuk ensiklopedi. Munculnya World Spirituality: An Encyclopedic History of The Religious Quest, sebuah ensiklopedi yang berjilid 25 buah, bagi Budhy adalah wujud minat Barat menelusuri dunia spiritualitas.
Buku ini adalah bagian dari ensiklopedi tersebut. Digarap oleh penulis-penulis terkenal dan akrab dengan spiritualitas Islam. Buku yang disunting oleh Seyyed Hossein Nasr, merupakan jilid kedua seri Ensiklopedi Spiritual Islam. Lewat model pendekatan riset mendalam dan tanpa menghilangkan sisi transhistoris, sekitar duapuluh penulis terkenal terlibat penggarapan buku ini. Para penulis pilihan ini telah memahami dan merasakan dunia tasawuf (mistik Islam), baik dalam hal sejarah, seni (puisi, kaligrafi, tarian, musik), dan ide-ide yang berkaitan dengan spiritualitas Islam.
Para penulis utama bidang spiritualitas Islam seperti Annemarie Schimmel, Seyyed Hossein Nasr, William C. Chittick, Titus Burckhardt, Jeans Canteins, Victor Danner, Shems Friedlander, Safa Abdul Aziz Khulusi, Jan Knappert, Jalal Matini, Jean-Louis Michon, Sayyid Athar Abbas Rizvi, S. Abdullah Schleifer, Gonul A. Tekin, dan yang lainnya memberikan sumbangan penting dalam buku ini. Yang menarik lagi Dr. Javad Nurbakhsy, syaikh tarekat Nimatullahi, turut berpartisipasi memberikan gambaran tentang bentuk dan makna tarekatnya.
Buku ini menunjukkan wujud spiritual Islam dalam kontek ruang dan waktu yang menampakkan diri dalam tradisi. Bagi Nasr (1997), dalam Pengetahuan dan Kesucian, tradisi mengandung nilai-nilai kearifan perennial. Tradisi bagi Nasr seperti halnya agama, sebagai persoalan kebenaran dan kehadiran. Tradisi tak lepas dari wahyu dan agama, kesucian, otoritas, gagasan ortodoksi, kontinuitas dan reguleritas transmisi kebenaran, eksoterik dan esoterik, serta kehidupan spiritual, sains dan seni.
Ensiklopedi ini dipetakan dalam tiga bagian. Pertama, mendiskusikan bentuk pengajaran, praktik, tulisan, dan pengaruh tarekat sufi dari Dunia Islam, terutama tarekat-tarekat besar. Nasr ingin menunjukkan bahwa tasawuf sebagai wujud dari spiritualitas Islam sebagai pernyataan aspek batiniah dari Islam. Pelacakkan peta tradisi tasawuf dalam buku ini merupakan upaya menggali pengetahuan eksoteris dan esoteris tradisi Islam.
Dalam pencapaian ajaran kebenaran tauhid, menurut Nasr, secara bertahap dalam alur sejarahnya bermunculan tarekat-tarekat sufi dengan metode zikir Nama-Nama Ilahiah dan perilaku yang mulia. Keragaman wujud dari tradisi tarekat-tarekat muncul akibat bersentuhan dengan perbedaan etnik dan iklim psikologis di penjuru dunia (hlm.4). Bisa dipahami mengapa muncul keragaman tak lain adalah karena Tuhan telah mencipta manusia dalam keragaman yang akhirnya wujud ekspresi mereka pun berwarna.
Pada bagian pertama ini Nasr mengurai pentingnya melukiskan tarekat-tarekat dan mazhab-mazhab besar sebagai wujud dari perkembangan spiritualitas dalam dunia Islam. Lewat pembacaan pada peta sejarah, sebaran tarekat menurut wilayah geografis, pengaruh budaya, dan lama eksistensinya, sehingga memudahkan buku ini disimak asal dan makna yang muncul dari kekayaan tradisi tasawuf. Beberapa tarekat penting seperti Qadariah, Naqsyabandiyah, Syadzilillah, Chistiyyah, Nimatullahi, Mualawiyyah, Kubrawiyyah, Khalwatiyyah, dan beberapa tarekat di Mesir, dikupas sejarah, ajaran, metode, etika, serta pengaruh, dan penyebarannya.
Bagian kedua, memaparkan signifikansi kesusastraan sebagai cermin spiritualitas Islam. Pendekatan literatur baik dalam Al Quran ataupun puisi-puisi sufisme mendapat porsi penting dalam bab ini. Cermin lain spiritualitas Islam tercurah dalam literatur tradisi Arab, Persia, Turki, Anak Benua India, Melayu, dan literatur-literatur dari Afrika.
Dalam peta literatur sastra Arab, Safa Khulusi menangkap spiritualitas Islam dalam empat sisi: Al Quran dan Hadis, Cinta Platonik pada awal Dinasti Umayyah, Syi'ah, dan Tasawuf. Sementara Nasr dan J. Matini menguraikan latar belakang sastra di Persia, sastra kearifan dan sastra inspirasi-keagamaan. Dalam perkembangannya puisi sufi Persia mencapai puncaknya pada abad ke-6H/12M dan ke-7/13M dengan tokoh-tokohnya Sana-I, Aththar, dan Rumi(hlm 431).
Bagian ketiga mengulas pemikiran dan seni Islam sebagai refleksi dan spiritualitas Islam. Nasr menuliskan bab ini tentang makna penting dari ilmu Kalam (teologi) dalam sejarah Islam. Ia membahas pemikiran Mu'tazilah dan Asy'ariyyah. Sementara filsafat Islam dibahas karena memiliki arti penting dalam tradisi intelektual Islam. Aliran-aliran seperti filsafat Peripatetik, Iluminasi-nya Suhrawardi, filsafat Isyraqi, Mulla Shadra dan aliran Isfahan teruraikan juga dalam bab ini.
Jean Cantein, seorang sarjana Perancis, membahas ilmu-ilmu yang tersembunyi dalam Islam. Cantein mengulas kosmologi dan metafisika dari ilmu huruf, ilmu Nama-Nama, dan ia mengakhiri dengan tulisan kimia kebahagian. Bagian terakhir dari bab ketiga dibahas manifestasi musik, tarian suci, dan kesenian Islam. Titus Burckhardt mengabstrasikan spiritualitas seni Islam sebagai suatu penyaksian atau kontemplasi akan kesatuan Tuhan. Baginya pada tingkatan bentuk, kesatuan itu memanifestasikan dirinya secara langsung sebagai keindahan.
Yang menarik lagi dalam nelusuri jejak-jejak literatur spiritual Islam para penulis tak hanya memakai pendekatan historis. Realitas transhistoris seperti pelacakan kedalaman ajaran, makna, dan persoalan-persoalan mendasar menjadi penting untuk diungkapkan berkaitan dengan kearifan perennial. Dan inilah letak kelebihan buku ini; menguraikan keragaman tradisi dalam dunia spiritualitas Islam. Wujud keragaman nampak jelas terlihat dalam ensiklopedi bertema manifestasi.
Buku ini memberikan makna penting dalam tradisi Islam, khususnya para sufi yang dikenal memiliki rasa toleransi yang tinggi, terbuka, simpatik, terhadap agama-agama lain. Wajar bila literatur puisi sufi memiliki daya tarik yang kuat, baik dalam soal keindahan kata ataupun kedalaman makna.
Namun sayang pada bab Rumi dan Maulawiyyah, William C. Chittick tidak menganggap penting untuk menuliskan kisah hidup Jalaluddin Rumi secara khusus dan rinci. Baginya kisah Rumi telah banyak diceritakan. Bagaimanapun juga untuk sebuah ensiklopedi spiritualitas dunia, menuliskan latar belakang kehidupan seorang tokoh yang akan dibahas tentu akan menjadi bagian yang penting dari kelengkapan buku tersebut.
Tapi paling tidak kehadiran ensiklopedi ini bisa memberikan sebuah peta tentang wujud tradisi Islam yang tercermin dalam dunia tasawuf. Dan pelacakkan peta tradisi Islam (tasawuf) ini akhirnya menemukan bentuk-bentuk plural yang bersumber dari napas pengakuan atas Keesaan Tuhan ?
Adi Baskoro
Resensi ini pernah dimuat dalam rubrik buku Jawa Pos
Posted at 05:16 pm by akubaskoro
Permalink
Rumi: Fashion dan Syair Cinta
Awal Maret lalu Kabir Edmund Helminski, seorang mursyid (guru) asal Amerika mengenalkan tasawuf dan tarian berpusar ala Jalaluddin Rumi di Bogor, Jawa Barat. Praktek zikir (mengingat Tuhan), ceramah, meditasi, pelatihan sema' (audisi), dan gerakan berputar tarekat Maulawiyah dikenalkan oleh Helminski. Acara tersebut dihadiri cukup banyak orang. Seakan kedahagaan spiritual pun bisa terpuaskan melalui kursus tasawuf itu.
Jalaluddin Rumi, sufi dan penyair besar dari Konya ini memang diakui memiliki daya tarik yang luar biasa Tengoklah buku-buku Rumi yang ada rak-rak toko buku tak lepas dari dilirik penggemarnya. Bahkan buku Jalan Cinta Sang Sufi karya William C. Chittick terbitan dari Yogjakarta telah naik cetak berkali-kali. Kiranya pada tahun 2000 banyak karya Rumi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Banyak penerbit-penerbit Yogjakarta yang menerjemahkan karya-karya Rumi.
Barangkali getaran napas spiritual Rumi telah menembus dinding modernisme. Seakan hembusan napas cinta Rumi dari abad 13 menggenangi negeri Paman Sam dan mengalir ke seluruh belahan bumi. Kehadiran karya-karya Rumi telah melintasi batasan waktu, budaya, dan agama. Namun benarkah esensi syair-syair religius Rumi yang mereka tangkap atau hanya budaya sesaat?
Jalaluddin Rumi pernah diberitakan oleh Publisher' Weekly sebagai seorang penyair yang paling menjual di Amerika. Kemasyuran Rumi terus berkembang hingga oleh Coleman Barks karya-karyanya diterjemahkan dan diterbitkan. Coleman Barks berhasil menjual lebih dari seperempat juta copi dari hasil terjemahannya. Puisi Rumi yang dinyanyikan oleh Nusrat Ali Khan pun masuk daftar Billboard's Top Twenty. CD berjudul Love Poems of Rumi berisi puisi-puisi Rumi hadir mengiringi pagelaran fashion show di New York. Madonna, Rosa park, Goldie Hawn, Demi Moore, dan Martin Sheen turut hadir di sana (Amira El-Zein, 2000). Suatu fenomena luar biasa dan membuat orang terheran-heran.
Memang harus diakui banyak sekali yang tertarik membaca syair Rumi tapi sesungguhnya latar belakang serta esensi dari tradisi Islam (sufisme) tak dipahami sepenuhnya. Kebanyakan mengira syair Rumi bukan berasal dari hasil pengalaman spiritual. Hal inilah yang dikritik Annemarie Schimmel, seorang peneliti yang telah menggeluti Rumi lebih dari 40 tahun. Schimmel melihat banyak orang tertarik pada Rumi karena Tarian Berpusar dari tarekat Maulawiyahnya. Ia pun menyontohkan seorang mahasiswanya yang tertarik mengikuti kuliah tasawufnya karena ia telah membaca karya Rumi dan melakukan tarian berputar, namun ia tak mengetahui akar dari sufisme itu sendiri.
Sufisme biasa dipergunakan untuk menyebut mistik Islam, sebuah 'jalan' untuk menyatu Sang Pencipta. Evelyn Underhill, seorang tokoh penting awal dalam studi mistisisme, mengatakan bahwa satu ciri pokok mistisisme adalah "kesatuan antara Tuhan dan jiwa (manusia)" (King, 2001). Dalam khasanah mistik Jawa lebih dikenal dengan Manunggaling Kawula Gusti.
Di Barat Rumi dikenal karena tarian darwis berpusarnya yang mempesona. Ritual tarian ini menjadi bagian penting dari tarekat Maulawiyah. Esensi dari ritual tarian seperti gasing ini adalah perlambang pemujaan pada Sang Pencipta. Tarian ini juga disimbolkan sebagai perputaran alam semesta. Musik, tarian,dan puisi melengkapi ritual tarian berputar yang juga diiringi dengan zikir.
Jalaluddin Rumi (1207-1273) adalah sufi dan penyair termasyur yang melahirkan banyak karya. Matsnawi merupakan karyanya yang penting dan banyak yang menyebutnya sebagai Al Quran-nya orang Turki. Matsnawi berisi puisi-puisi dan kisah-kisah yang mengacu pada Al Quran, sunah Nabi, dan ajaran-ajaran kaum Sufi terdahulu.
Tema-tema syair Rumi selalu terkaitan dengan manusia, Tuhan, dan alam. Karya-karya Rumi selalu mengacu tema Cinta. 'Cinta' dijadikan jalan menuju kesatuan dengan Sang Pencipta. Tasawuf Rumi sendiri digolongkan pada Mistisisme Cinta. Melalui jalan Cinta ini Rumi berupaya mewujudkan rasa keterpisahan dan kerinduan yang sangat pada Sang Pencipta untuk bersatu. Segala keindahan yang nampak dipahami Rumi cerminan dari Tuhan. Seperti halnya Socrates, Rumi juga memahami cinta sebagai kerinduan jiwa akan keindahan. Tentang Cinta, Rumi dalam sebuah syair mengatakan:
Suatu malam kutanya Cinta: "katakan, siapa sesungguhnya dirimu?" Katanya: Aku ini kehidupan abadi, aku memperbanyak kehidupan indah itu." Cinta bagi Rumi adalah penggerak segalanya. Cinta telah diciptakan pertama kali oleh Tuhan. Rumi menyebut "cinta" sebagai kekuatan kreatif fundamental. Lewat Cinta segalanya akan berubah menuju tingkatan yang lebih baik. Cinta itulah yang bertanggung jawab atas pertumbuhan (evolusi) alam dari tingkat yang rendah ke tingkat lain yang lebih tinggi (Kartanegara,1986).
Bila kita mengetahui latar belakang sufi dan penyair dari Konya ini, kita akan lebih hormat dan hati-hati membaca syair-syairnya. Hakikat dari pengalaman Rumi adalah inti dari pengalaman religius yang bersifat intuitif. Sepertinya sikap tegas Kabir Helminski, seorang guru dari Tarekat Maulawiyah, perlu kita hargai. Helsminki menolak diajak Madonna untuk mengisi video klip-nya dengan tarian berputar, karena tarian tersebut adalah ritual yang suci, sementara Madonna hanya memandang tarian itu sebagai sesuatu yang eksotis aja.
Bagaimana dengan Rumi yang hadir di pagelaran kontes busana? Bisa jadi pemandangan kehadiran syair Rumi di pagelaran busana Donna Karan adalah gagasan sukses dari pasar yang semakin pintar memanfaatkan kebesaran Rumi untuk menjual pakaiannya. Hal-hal religius-pun akhirnya dijadikan komoditi dan tak lepas dari bidikan kaum pemodal. Dan mereka pun berkata, "Oh saya tidak menyangka syair cinta Rumi adalah sesuatu yang sangat religius."
Adi Baskoro
dimuat di Refleksi harian nasional Jawa Pos, Minggu 11 Mei 2003
Posted at 04:55 pm by akubaskoro
Permalink
|