Entry: Affair, Obrolan tentang Jakarta Saturday, September 30, 2006



RESENSI BUKU
 
Judul buku:  Affair, Obrolan tentang Jakarta  
Penulis: Seno Gumira Ajidarma
|Tebal: 219 hlm | Penerbit: BukuBaik, Jogjakarta, 2004

 

Aquarium Homo Jakartensis
 

Barangkali selain berisi kecemasan, Jakarta adalah ibukota yang mengagetkan. Betapa tidak, sekitar 70% uang negara berputar-putar dalam tarian yang memukau. Tak mengherankan jika banyak orang bertandang untuk mengadu untung atau berjualan mimpi-mimpi. Di sinilah para pengemis, Ali Oncom, artis, pejabat, anggota DPR, aktivis LSM, kaum urban, koruptor berdiam di kota yang di abad XVI bernama Jayakarta. 

Masih menarikkah membicarakan Jakarta? Di era otonomi daerah sepertinya akan alergi menyoal Jakarta sebagai pusat segalanya. Bahkan ada isu tentang gerakan anti Jakarta. Dalam esainya berjudul Jakarta Tanpa Indonesia, Seno Gumira Ajidarma (SGA) berkata, "Jakarta bagai sebuah dunia yang orang-orangnya asyik dengan diri sendiri.T­ak peduli dengan nasib orang-orang di daerah-daerah". Demikian tulis SGA dalam esainya di buku berjudul Affair, Obrolan tentang Jakarta. Sebuah kumpulan esai yang berasal dari berbagai media yang terpublikasikan dari tahun 1993 hingga 2004.

Jakarta tetap menyita perhatian orang. Tentu terlepas dari ada-tidaknya bom di Kuningan. Jakarta dari kacamata SGA adalah bertema gaya hidup, kemacetan, gap sosial, mitos modernitas, kesuksesan, serta potret-potret penghuninya. Esai-esai yang dikemas apik, mengalir, kaya realitas, bernada miring, terkadang lucu, ajaib, serta liar bagaikan menyimak cerpen-cerpennya.

Ada banyak cerita di balik gemerlap dan sesaknya Jakarta. Sejak dulu hingga kini cerita Jakarta terjejaki di berbagai media. Seperti lewat lagu, di koran, majalah, foto, cerpen, film, sinetron, komik, buku, ingatan-ingatan kaum urban, dan penyair. Misalnya saja yang masih segar dalam ingatan kita; hasil reportase yang ditulis Muamar Emka. Yakni cerita tabu di balik aroma malam kota metropolitan, lewat Jakarta Undercover yang laris bak kacang godok. 

Gambaran yang sering didengar dari Jakarta adalah kota kosmopolitan sarat gaya, konsumtif, kriminalitas, kemiskinan, macet, banjir, teror bom, tawuran antar pelajar, ataupun gosip seputar artis ibukota. SGA menuturkan lagi dalam sudut sosial-budaya yang sering dibumbui makna filosofis. Jakarta tak hanya jalanan yang macet, Monas, beton, kafe-kafe, ataupun koran Pos Kota. Bagi SGA, Jakarta bagaikan sebuah aquarium. Aquarium yang kaya makna. Ketika dengan bebas pria kelahiran Boston ini bisa menikmatinya dengan supir taksi yang mengantuk. Penulis cerpen Negeri Senja ini, pandai menyelami aquarium kota metropolitan itu. Dalam esai-esainya, SGA seperti menghadirkan cerita kehidupan yang tak jauh darinya. Akrab dan begitu lekat, serta tak berjarak. Walaupun di sebuah esai ia meragukan apakah bisa mengenal orang Jakarta.

Denyut kota ini bagaikan tak pernah lepas dari nadi kreatif SGA. Jakarta pun baginya adalah sebuah ruang, waktu, dan Homo Jakartensis (sebagai sebutan untuk manusia Jakarta). Homo Jakartensis, menurutnya manusia yang hidup dalam gaya dan penuh ketakutan.Takut gagal, takut menderita , takut tidak dihargai, takut dikomploti, takut dikerjain, takut di curangi, dlsb, demikian tulisnya dengan meminta maaf karena mungkin terlalu menyederhanakan (hlm.118).

Detail keseharian Homo Jakartensis terapreasi dalam tulisan yang kaya sudut pandang dengan sindiran yang menggelitik, penuh kritik, permenungan, serta nakal. Misalnya dalam tulisan berjudul Paranoia. Berisi kisah orang-orang kantoran yang takut terlambat dan terjerembab di kemacetan serta ditemani radio atau sarapan pagi. Saat mobil lalu berarti sebagai rumah kedua, dan kantor sebagai rumah ketiga. Selain itu dahaga spiritual Homo Jakartensis diatasi lewat instans wisdom saat merasa tercukupi dengan membaca Kahlil Gibran, Anand Krishna, atau Chicken Soup. Ada lagi cerita tentang Zebra Cross, yakni sebuah pemandangan antara pejalan kaki dengan pengendara bermobil yang tak peduli dengan para pejalan kaki, dan saat itulah sisi kemanusiaan terabaikan. 

Mitos kesuksesan selalu melekat di kota ini. "Kalau mau sukses ya ke Jakarta", kalimat ini sering kita dengar. Ada yang mengatakan Jakarta juga yang berarti kemenangan. Mendekati bagian akhir buku kecil ini, SGA memaknai affair sebagai bagian gaya hidup di kota besar. Baginya affair bukanlah jalan keluar melainkan jalan buntu. Kritikus film Indonesia dan pengajar IKJ ini menambahkan: "Kalau Anda terlibat affair, Anda akan menjadi manusia pinggiran. Jelaslah affair yang menjadi modus operandi masyarakat kota besar, mengacu kepada hukum dagang ini. " (hlm 205)

Buku ini memberikan kontribusi banyak pada kita, hal tentang Jakarta bersama "keajaiban-nya". Paling tidak Anda akan banyak mengetahui Homo Jakartensis dari SGA. Membicarakan Jakarta adalah tak ada habisnya, karena pencitraan terhadap gaya dan pilihan-pilihan hidup terus berganti, walaupun sebenarnya segalanya efek dari berhala modernitas yang terkadang mengabaikan sisisisi kemanusiaan.

Inilah panggung besar pentas kehidupan di aquarium bernama Jakarta saat gaya, mitos kesuksesan dipuja. Sebuah buku yang menarik untuk memberi gambaran muram, suram, ironis, tentang aquarium Homo Jakartensis dan keterasingan.   


Adi Baskoro

 

 

 

 

   1 comments

Andy
February 3, 2008   12:27 PM PST
 
Jujur saya suka dengan tulisan anda.kapan nulis lagi.
Eh Kalo bisa minta tolong saya juga suka nulis nih saya ingin mennulis sisi lain dari kehidupan orang orang yang memiliki kehidupan ganda ( gay ) tolong dong kirimi ke email aku yang memuat kumpulan cerita pengalaman gay kirimkan aja melalui email aku.
terima kasih ya atas bantuan nya

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments