|
A
Message from Underground Place
in Tuban
Sejarah
lampau mencatat,Tuban adalah sebuah kota pelabuhan penting di Kerajaan
Majapahit. Di abad ke-14,Tuban menjadi pintu masuk ke kerajaan terbesar yang
pernah ada di Indonesia. Dalam sejarah penyebaran agama Islam di tanah Jawa,
Tuban pun berperan penting. Para walisongo (para penyebar agama Islam di pulau
Jawa berjumlah sembilan wali) dan wali-wali lain yang pernah ada, telah
merambahi wilayah Tuban. Di pesisir Utara Jawa Timur itu, salah satu dari
walisongo yaitu Sunan Bonang dimakamkan di kota ini.
Tuban
berarti “Jeram” dalam bahasa Kawi, yang berarti air terjun. Di kota yang
memiliki panjang pantai 65 kilometer itu memang terdapat air terjun yang
terletak di kecamatan Singgahan (air terjun nglirip) dan di kecamatan Semanding
( air terjun banyu langse ).
Tuban
berada kurang lebih 96 Km dari kota Surabaya. “Kota Seribu Gua”. Demikian
sebutan lain dari kota berhawa panas ini. Di pusat kota Tuban terdapat Gua
Akbar yang letaknya di dekat pasar. Oleh pemerintah setempat dijadikan obyek
wisata alam. Di kecamatan Montong, di tengah kawasan hujan jati terdapat gua
yang baru saja ditemukan yakni Gua Putri Asih. Selain itu ada juga Gua Ngerong,
sebuah gua air yang memiliki sungai. Bagi para peminat selusur gua (caving)
tak salah jika Tuban dijadikan tujuan utama.
Pesantren—tempat
santri (murid) belajar mengaji Islam—juga bertebaran di Tuban. Seperti halnya
Kediri, Jombang, Lamongan, Gresik, atau di beberapa kabupaten lain di Jawa
Timur. Salah satunya Pesantren di Langitan (Tuban), yang dipimpin KH Abdullah
Faqih, sebuah pesantren yang memiliki 5500 santri. Di kalangan NU (Nahdatul
Ulama) dan perpolitikan nasional, Pesantren Langitan yang cukup penting. Para
Indonesianis menyebut NU sebagai masyarakat Islam tradisional. NU adalah
organisasi Islam terbesar di Indonesia dikenal lekat dengan dunia pesantren
dimana nilai-nilai tradisi berusaha dijaga.
Dari
sekian banyak pesantren yang ada di Jawa Timur, tepatnya di Dusun Wire, Tuban, terdapat pesantren
(ponpes:pondok pesantren) yang letaknya sangat ekstrem; yakni di dalam
tanah.Tidak seperti kebanyakan pesantren lainnya yang biasanya berada di
permukaan tanah.Tanah di Dusun Wire itu tergolong berbatu dan keras.Tak ada
yang menyangka jika di dekat perumahan penduduk itu terdapat sebuah gua-gua. Di
bawah tanah tandus dan berbatu-batu itulah di dalamnya terdapat gua-gua lokasi
pesantren itu berada.
Saat
tiba di sebuah pelataran luas yang tandus itu, saya tak mengira jika di bawah
kaki saya terdapat gua-gua. Di depan gerbang pintu masuk, dibawah kibaran
bendera hitam (bendera Imam Mahdi) bertuliskan huruf Arab, tertulis di papan
nama: Pesantren Syeh Maulana Maghrobi. Nama ini diambil dari seorang wali
(orang suci) yang dahulu pernah ada di tanah Jawa. Pesantren ini lebih dikenal
dengan sebutan Ponpes Perut Bumi, untuk mewakili letaknya yang berada di dalam
tanah. Istilah “perut bumi” dalam bahasa Inggris bisa diterjemahkan menjadi “earth
bottom”.
Ponpes
Perut Bumi berada di dalam tanah seluas tiga hektar. Menurut pengakuan KH
Subhan Mubarok, pimpinan ponpes Perut Bumi, setelah menerima bisikan gaib di
malam satu Suro tahun 2001, segera ia membeli tanah yang berada di Kelurahan
Kedungombo itu. Dahulu tempat itu adalah tempat pembuangan sampah dan sarang
ular. Setelah tempat itu dibersihkan, lalu KH Subhan menyulap gua temuannya
menjadi ponpes yang unik dan berdaya tarik tinggi.
Ponpes
Perut Bumi dipagari tembok setinggi satu meter.Sebuah cekungan luas berhias
taman nampak terlihat, dengan dinding-dinding batu yang mendominasi, di
beberapa sisinya nampak seperti mulut gua. Huruf-huruf arab terlukis di dinding tembok
di seberang pintu gerbang. Saat menuruni undakan tangga, di sebelah kanannya
ada sebuah tempat untuk wudlu (bersuci) dan toilet.
Kiranya
14 meter dari tempat wudlu terdapat mulut gua yang menjorok ke dalam. Di dalam
gua ini terdapat sebuah ruangan besar yang digunakan untuk masjid. Tempat ini
diberi nama Gua Putri Ayu—diambil dari nama “penghuni” yang diyakini menjaga
gua tersebut. Gua ini mampu menampung 600 jamaah, lengkap dengan lampu neon. Di
bagian belakang masjid terdapat lobang pintu dengan sebuah ruangan yang biasa
digunakan untuk ritual semedi.
Di
sebelah kanan mulut Gua Putri Ayu terdapat sebuah kamar berkarpet biru yang
biasa untuk menerima tamu, lengkap dengan toilet. Di kamar ini saya sempat
bertemu Asmuni, salah satu pelawak senior Srimulat bersama kru televisi lokal.
Ia mengagumi keindahan tempat ini dan berniat mengunjungi Ponpes Perut Bumi
lagi. “Saya baru mengetahui di Tuban ada pesantren seperti ini,” ujar Asmuni
takjub. Pandangan matanya berkali-kali menyelidik dinding-dinding gua di kamar
berbatu itu.
Di
sebelah Utara gerbang utama terdapat lorong. Di kanan-kiri lorong terdapat
lubang-lubang gua dengan lantai terplester, untuk sementara digunakan sebagai
kamar-kamar santri. Di sebelah kanan lorong terdapat ruangan kecil tertutup
pintu kecil yang jarang dibuka. Ruangan kecil itu difungsikan sebagai ruang
bertapa.
Tak
jauh dari tempat itu, terdapat ruangan khusus dengan lantai dilapisi karpet
tebal. Ruang di gua ini mengingatkan saya pada setting film silat, seperti
sebuah istana-istana jaman dahulu. Kiranya di ruangan 4X5 meter ini, KH Subhan
biasa menerima tamu-tamu penting. Di balik ruangan ini masih terdapat gua-gua
yang lain seperti petilasan Sunan Kalijaga dan Syeh Jangkung, dan bekas pijakan
kaki Syeh Maulana Maghrobi. Ketiganya adalah para wali yang diyakini Abah
pernah bertapa di gua itu. Di ruangan yang beratap rendah bernama Gua Atas
Angin, digunakan untuk Taman Pendidikan Al Quran untuk anak-anak kecil.
Abah,
panggilan lain KH Subhan Mubarok, sangat terbuka menerima tamu. Setiap hari
orang datang silih berganti untuk meminta didoakan kiai atau sekadar melihat-lihat
pesantren yang berada di Kecamatan Semanding itu. Seperti halnya Anton, seorang
mahasiswa yang kuliah di Jakarta, sudah tiga hari tinggal di dalam gua. Ia meminta doa dan restu kiai Subhan agar
bisa segera mendapat pekerjaan. Pada hari ketiga sang kiai menyuruhnya kembali
ke Jakarta. “Uwis leh ndang mangkat to neng Jakarta, tak dongake lan iki
gawanen ” (Udah ‘nak berberangkatlah ke Jakarta, saya doakan dan ini
bawalah), ujar Kiai Subhan sambil memberikan kertas berisi doa-doa bertuliskan
Arab, tangan kanannya memegang kepala Anton.
Mendirikan
pesantren di bawah tanah (gua) bukanlah tanpa hambatan. Saat Abah mau
mendirikan ponpes, Bupati dan Pemerintah daerah (Pemda) Tuban melarangnya;
dengan alasan gua tersebut adalah milik (aset) negara. Tapi Abah tak
menghiraukan peringatan Haeny Rini Widyastuti, Bupati Tuban. Abah tetap
bersiteguh dengan prinsipnya dan pesan gaib yang telah ia terima. Dengan nada
keras ia mengancam akan melawan pemda atau siapa pun yang berani mengambil alih
gua temuannya. Gua tersebut memang berada di tanah yang telah berstatus milik
Abah. Kasus ini pernah ramai di media massa.
Walaupun
kesulitan dana, sampai saat ini Abah tetap berjuang membangun ponpes Perut Bumi
yang berusia tiga tahun itu. “Ayo-ayo awan-awan ora podo turu, wektune
nyambut gawe,” perintah Abah menyuruh santrinya untuk merapikan batu-batu
di atas gua. Pembangunan pesantren itu telah menghabiskan dana 1,4 Milyar
rupiah. Dana ia peroleh dari menjual beberapa mobilnya dan diambil dari
kantongnya sendiri, serta sumbangan-sumbangan dari beberapa pengusaha di Jawa
Timur. “Untuk mendirikan ponpes ini saya tidak menolak sumbangan dari manapun,”
aku kiai kharismatik ini. Abah hanya berprinsip ia tidak pernah meminta-minta
sumbangan.
“Siapa
saja yang pernah menyumbang ponpes Perut Bumi?” tanya saya.“Farida Pasha,
seorang artis sinetron,“ jawab Abah. Farida Pasha adalah pemeran tokoh Mak
Lampir dalam sinetron seri Misteri Gunung Berapi. “Ia salah satu penyumbang
rutin diatas satu juta rupiah untuk pembangunan ponpes Perut Bumi,” aku Abah. Sementara
R. Hartono, seorang jenderal dimasa pemerintahan Suharto, pernah menyumbang 20
juta rupiah untuk membantu membeli tanah di sekitar ponpes. Sumbangan lainnya
ia terima dari kotak amal yang tersedia di gua. Sebagian lagi sumbangan dapat
dari salaman tempel dari para tamu yang “berkonsultasi”.
Kesan
keras memang tergambar dari raut wajah Abah. Abah adalah seorang kiai yang
sederhana. Dalam kesehariannya Abah tetap turun tangan mengangkat batu dan
membantu para santri membenahi gua. “Kalau tak ada tamu biasanya Abah hanya
memakai singlet dan bercelana pendek kerja bersama kita,” ujar seorang santri
bernama Adityawarman.
Abah
bukanlah penganut Islam garis keras. Prinsip keberagaman ia simbolkan dari
beragam batu yang menyusun gua-gua di ponpes Perut Bumi. “Di sini ada berbagai
macam bebatuan yang bercampur menjadi satu”, ujar lelaki asal Modo, Lamongan. Abah
pun tak pernah membeda-bedakan etnis atau latar agama para tamunya. “Di
pesantren ini,” tutur Abah, “diajarkan untuk menghormati agama-agama selain
Islam, kami ingin meng-islah-kan (merukunkan) umat beragama di Indonesia,” ujar
lelaki yang berusia 58 tahun.
Metode
pendidikan Pesantren Perut Bumi mengacu pada kurikulum Langitan. Di sini kitab
kuning, fiqih (hukum Islam), ilmu Hikmah, tasawuf (mistik Islam), serta ilmu
kanuragan (bela diri) dan tenaga dalam diajarkan untuk para santri. “Ajaran
Perut Bumi bukanlah ajaran sesat dan keras, di sini mengacu pada Al Quran dan
Hadist Nabi (Muhammad),” ujar kiai ini dengan nada tegas. “Di sini pun tidak
diajarkan untuk merusak atau membunuh,” jelas kiai yang pernah menimba ilmu di berbagai pesantren
termasuk Langitan. Abah masih melanjutkan,“Tujuan dirikan pesantren untuk
membina santri agar berakhlak bagus dan berbudi Timur.” Dalam tasawuf memang
dikenal sebagai aliran Islam yang sangat toleran terhadap keberagaman
beragama.
Tempat
ini bukanlah tempat tujuan wisata. Tempat ini juga bukan sebuah gua yang biasa
dikeramatkan dengan sesaji layaknya tradisi di Pulau Jawa. Di sinilah tempat para santri digembleng
belajar Ilmu agama Islam (Tauhid). Di tempat ini telah 18 pecandu narkoba
disembuhkan Abah. Hingga saat ini Abah masih membatasi jumlah santri yang akan
belajar di Perut Bumi. Abah ingin merampungkan ponpes yang masih dalam proses
membangun.
Selain
untuk mengaji, pada malam Jumat Pon, tepat jam 12 malam di pesantren ini biasa
diadakan isthigosah (dzikir dan doa bersama) yang terbuka untuk
umum. Siraman ruhani dan pesan-pesan kedamaian sering diutarakan Abah kepada
para tamunya. Abah termasuk kiai yang mengecam tindakan pengeboman di beberapa
tempat di Indonesia. Abah sangat membenci orang-orang yang nekad membunuh dan
merusak atas nama agama.
Soal
politik nasional Abah tidaklah buta. Abah bersama 46 kiai lainnya (termasuk KH
Abdullah Faqih dari Langitan) adalah pendukung Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dalam
sebuah tabloid di tahun 2000, ia pernah meramalkan bahwa wahyu kepresidenan ada
pada SBY. “Wahyu itu setelah beralih dari Bung Karno berpindah ke Suharto, saat
ini wahyu itu diterima Yudhoyono, sekarang terbukti kan!” ujarnya bersemangat. Menurutnya
Habibie, Gus Dur, dan Megawati bukanlah presiden yang mendapat wahyu. “Mereka hanya presiden yang mengisi kekosongan,” jelas Abah.
____
Tak
terasa malam jatuh di Perut Bumi. Kesan angker dan seram segera menyampuli
pesantren bawah tanah itu. Di bawah dinding-dinding gua bersama Gus Alfin, anak
Kiai Subhan, saya berusaha merapatkan mata dengan perasaan sedikit cemas. Inilah
pengalaman pertama tidur di bawah stalatit gua. Saya berusaha mengusir rasa
takut itu dengan doa.
ADI BASKORO
|